Saturday, 15 September 2012

KISAH SEORANG JANDA YANG BERHATI MULIA (1 RAJA 17:7-16)


Oleh: Sugiman

Alkisah, di sebuah desa kecil yang bernama Sarfat, yang terletak di pelabuhan kapal di pantai laut Fenisia di Timur Tengah. Dalam kisah itu diceritakan mengenai kehidupan seorang janda miskin bersama anak perempuannya, satu-satunya yang masih berusia sangat muda. Namun tidak disebutkan berapa usia dari anaknya itu. Mungkin usia anak itu sekitar 12 tahunan.

Yang jelas dalam kisah tersebut, diceritakan, bahwa anaknya itu belum bisa bekerja atau melakukan pekerjaan berat untuk menghidupi ibunya yang sudah hidup sekian lama menjanda. Karena itu, sang anak hanya disuruh menunggu di sebuah gubuk sederhana yang terletak di sebuah desa di Sarfat.

Dalam kesehariannya diceritakan bahwa seorang  janda ini bekerja sebagai petani gandum dan mengumpulkan kayu api. Panasnya terik sinar matahari tidak pernah membuatnya menyerah dan mengeluh dalam menjalani kehidupannya bersama anak sebatang karanya.

Seperti yang kita ketahui, bahwa di daerah Timur Tengah adalah daerah yang sangat gersang, tandus, kering kerontang dan berbatu-batu. Karena itu tidak banyak tumbuhan yang bisa hidup bertahan lama di sana, kecuali tumbuhan-tumbuhan tertentu, seperti tumbuhan kurma, kaktus dan sejenisnya.

Pada suatu ketika terjadilah kemarau yang sangat hebat sehingga menyebabkan kekeringan di mana-mana. Selama beberapa bulan di tahun itu tidak pernah turun hujan di negeri itu. Akibatnya, tumbuh-tumbuhan banyak yang menjadi layu dan mati karena tidak ada air. Bahkan dikatakan embun pagi pun tidak turun di tahun-tahun itu.

Salah seorang petani gandum yang gagal panen akibat kemarau yang berkepanjangan itu adalah seorang janda yang disebutkan di atas. Sang janda menyadari bahwa persediaan gandum yang dimilikinya sudah semakin menipis, dan bahkan banyak orang yang hidup pada masa itu menjadi melarat dan meninggal dunia akibat kelaparan.

Selanjutnya, dalam kisah kehidupan seorang janda di atas juga diceritakan, bahwa ia hanya tinggal memiliki segenggam tepung gandum dan sedikit minyak yang akan digunakan untuk membuat roti bundar. Maka dapat dibayangkan, yakni sebesar apa roti yang akan dihasilkan dari segengam tepung itu. Tetapi itulah kenyataan hidup yang sangat sulit, menyedihkan dan menyakitkan, yang dihadapi sang janda itu bersama anak sebatang karanya.

Pada saat sang janda sedang mencari beberapa potong kayu api untuk memasak segenggam tepung menjadi sebuah roti bundar, yaitu demi menyambung hidup bersama anaknya. Beberapa saat kemudian datanglah seorang laki-laki bernama Elia dari daerah Tisbe – Gilead, yaitu daerah yang terletak di pegunungan di sebelah timur Sungai Yordan.

Ketika Elia melihat janda itu sedang mengumpulkan kayu api, ia berseru kepadanya dan berkata: “Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi supaya aku minum.” Ketika janda itu pergi mengambilnya, Elia berseru lagi katanya: “Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti.”

Kemudian janda itu menoleh ke arahnya dan berkata: “Demi Tuhan Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-bili. Dan sekarang aku mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati”.

Dari kalimat di atas dengan jelas memperlihatkan, bahwa setelah mereka habis memakan roti itu, maka tinggal menunggu hari kematian datang menjemput mereka. Karena sudah tidak ada persediaan tepung, yang dapat dioleh menjadi roti. Sungguh ini adalah situasi yang sangat mengerikan bagi kehidupan orang-orang saat itu, termasuk keluarga si janda itu.

Selanjutnya, yang lebih teragis lagi adalah, bahwa di dalam situasi yang sangat sulit itu, Elia yang datang sebagai orang asing bagi seorang janda itu dengan enaknya meminta sepotong roti kepadanya. Sudah sedikit, untuk dimakan berdua dengan anaknya, kini diminta lagi oleh orang yang tidak mereka kenal sebelumnya. Bahkan Elia meminta dibuatkan roti yang paling pertama, setelah itu baru anak dan dirinya.

Akan tetapi, si janda itu melakukan seperti yang dikatakan oleh Elia. Dikatakan, bahwa janda itu mengolah segenggam gandum yang dimilikinya itu menjadi sebuah roti bundar kecil. Kemudian tanpa merasa berat hati dan bersungut-sungut, melainkan dengan hati yang tulus ikhlas, serta sukacita, janda itu memberikan sepotong dari rotinya kepada Elia. Dan seketika itu juga tepung dalam tempayan simpanannya itu tidak habis-habis dan minyak dalam buli-buli itu juga tidak berkurang dalam jangka waktu tertentu hingga kebunnya menghasilkan gandum. Ini menandakan bahwa ia dan bersama anak perempuannya satu-satunya terbebas dari bencana kelaparan.

Kemudian, janda beserta anaknya itu tertunduk diam seribu bahasa dan berlutut dengan muka sampai ke tanah. Beberapa saat kemudian, dari lubuk hatinya yang terdalam ia berkata lirih dan lembut: “Sungguh, Tuhan sanggup melakukan banyak hal penting, yang dianggap mustahil bagi manusia, tetapi bagi Dia tidak ada satupun yang mustahil”.

Refleksi:

Para pembaca yang budiman, kisah di atas mengajarkan kepada bahwa jalani dan nikmatilah kebahagiaan hidup ini dengan sesama, terlebih dengan orang-orang membutuhkan pertolongan kita di dalam setiap situasi apapun. Cinta dan kasih sayang yang tulus ikhalas harus menjadi kunci utama dalam menjalaninya.

Karena itu, jangan pernah memandang sesama kita dengan sebelah mata, dan jangan pernah menutup pintu hati nurani kita sampai mereka mati. Tetapi pandanglah mereka dengan kedua bola mata kita, dan tataplah mereka dengan kasih yang tulus ikhlas, serta sambut dan terimalah keberadaan mereka sebagai saluran berkat dari Tuhan untuk kita.

Selanjutnya, jangan pernah meragukan kemampuan Tuhan dalam setiap hidup kita! Karena Tuhan sanggup melakukan banyak hal penting, yang daat mendatangkan kebaikan dalam setiap hidup kita.

Ingat!!! Tuhan tidak pernah menuntut dan memaksa kita untuk melakukan segala pekerjaan yang tidak mungkin atau mustahil bagi kita, melainkan melakukan apa yang di depan mata, yang mungkin dan dapat kita lakukan. Selebihnya, biarkanlah Tuhan yang melakukan segala sesuatu yang kita anggap mustahil. Karena sebenarnya Tuhan sangat peduli dengan setiap kehidupan orang yang selalu mengandalkan Dia dalam hidupnya.

Oleh sebab itu, mulai sekarang, lakukanlah banyak hal penting, yang mendatangkan kebaikan bagi sesama dengan cara-cara hebat yang telah Tuhan berikan dan tanamkan dalam setiap kehidupan manusia untuk kemuliaan-Nya.


Salam, semoga tulisan ini bermanfaat!

Monday, 10 September 2012

JANGAN BIARKAN KEKECEWAAN MERUSAK KEBAHAGIAAN HIDUP INI!


Oleh: Sugiman

Mungkin Anda sepakat jika saya mengatakan bahwa sebagian besar manusia yang hidup di muka bumi ini sangat merindukan yang namanya kebahagiaan. Betapa tidak? Karena hampir segala aspek atau sudut kehidupan manusia adalah bermuara pada kebahagiaan. Sekalipun sebenarnya ada juga orang tidak ingin menikmati kebahagiaan hidup itu bersama sesamanya.

Akan tetapi, tampaknya kekecewaan yang dialami oleh banyak orang adalah masalah serius yang menghambat mereka untuk menikmati kebahagiaan hidup ini. Kekecewaan adalah virus yang sangat ganas, mematikan dan dapat merusak kebahagiaan hidup setiap orang yang memberi makan dan memeliharanya. Dengan kata lain, bahwa kekecewaan adalah ibu yang melahirkan sifat dendam, kebenciaan, mencari-cari kesalahan orang lain, emosional yang berlebihan dan sifat-sifat jahat yang lainnya.

Jika kekecewaan itu tetap dipertahankan, dipelihara dan diberi makan secara rutin, maka ia akan mengkristal di dalam hati tuannya, sehingga kebahagiaan hidup yang telah Tuhan berikan atau tanamkan di dalam hati setiap orang itu pergi menjauh, dan bahkan meninggalkannya. Artinya, tidak ada satu hal pun yang berharga dan bermanfaat yang dapat dihasilkan oleh kekecewaan, kecuali kekecewaan itu sendiri.

Kekecewaan tidak akan pernah melahirkan keberhasilan, kesuksesan dan kebahagiaan hidup bagi mereka yang memeliharanya. Selain itu, kekecewaan juga dapat mendatangkan berbagai kepahitan hidup yang luar biasa beserta luka batin yang mendalam. Cepat atau lambat ia pasti akan mengerogoti dan merusak syaraf-syaraf atau organ-organ penting dalam hidup kita. Tidak hanya itu, bahkan hasil penelitian para dokter di California membuktikan, bahwa sebagian besar pasien yang mengidap penyakit borok usus besar, kanker hati, tumor ganas dan penyakit ganas lainnya disebabkan oleh kekecewaan yang sudah mengkristal dan mendalam.

Sungguh, kekecewaan yang mendalam telah merusak kebahagiaan hidup banyak orang. Kekecewaan membuat hidup ini menjadi sangat berat untuk dipikul menuju masa depan yang lebih baik. Bahkan kekecewaan juga merupakan tembok yang menghalangi kita untuk merasakan sukacita, kebahagiaan dan cinta kasih yang telah Tuhan berikan pada setiap orang. Akibat lain dari kekecewaan adalah kita tidak dapat menerima dan mengakui secara jujur akan kebaikan Tuhan melalui orang-orang yang ada di sekeliling kita.

So, jika kita terus-menerus mempertahankan dan membiarkan kekecewaan mengerogoti hidup kita, maka lambat laun kita akan menjadi manusia yang tidak lagi hidup normal. Pikiran, perasaan dan tindakan kita dihantui, diracuni dan dirusak olehnya. Oleh sebab itu, tidak heran jika banyak orang telah kehilangan harapan dalam menikmati hidupnya di dalam dunia ciptaan-Nya, yang adalah sebagai tempat satu-satunya yang diberikan Tuhan pada kita.

Karena itu, mulailah dari sekarang untuk membuang rasa kecewa yang selama ini kita pelihara, kemudian serentak dengan itu, kita juga harus memberikan ruangan yang luas dalam hati kita untuk pertumbuhan dan perkembangan kebahagiaan hidup ini. Selanjutnya, bersyukurlah untuk segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini, karena dengan demikianlah Anda dan saya telah berusaha untuk tidak memberikan tempat pada kekecewaan.

Ada banyak hal yang menjadi penyebab atas kekecewaan seseorang, tetapi tidak ada cara lain yang dapat kita lakukan untuk menghilangkannya, kecuali membuangnya secara paksa. Dengan kata lain, adalah sangat menyakitkan saat kita berusaha membuangnya, tetapi sebenarnya itulah awal dari kebahagiaan yang sesungguhnya.

Karena itu, nikmatilah awal dari kebahagiaan hidup Anda yang sesungguhnya itu bersama orang-orang yang kita kasihi, dan semua orang yang ada disekitar kita. Karena mereka itulah bagian yang tak terpisahkan dan para sahabat terbaik yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita. Oleh sebab itu, saya ucapkan selamat mencoba.


Salam kebahagiaan dan semoga bermanfaat.

BELAJAR DARI KISAH KESETIAAN SEEKOR ANJING


Oleh: Sugiman


Dalam sebuah film yang berjudul, “Hachiko: A Dog’s Story” menceritakan tentang seekor anjing yang tidak hanya taat pada tuan atau majikannya, tetapi juga setia pada sang majikannya. Ternyata pembuatan film ini terinspirasi dari kisah nyata seekor anjing bernama Hachiko yang hidup dalam rentang waktu tahun 1923-1935  di Jepang.

Kisah ini berawal ketika Profesor Parker Wilson (Richard Gere) bertemu dengan seekor anak anjing praremaja di Stasiun Kereta Api Bedridge, Wonsocked, Amerika Serikat, tempat dimana ia biasa pergi dan pulang dari bekerja. Karena merasa kasihan, maka seekor anak anjing itu diajaknya pulang ke rumahnya dan diberi nama Hachiko.

Parker beserta istrinya Cate (Joan Allen) memelihara dan merawatnya hingga Hachiko bertumbuh dewasa, besar dan tiada hari yang dilewatkan Parker tanpa bermain bersama Hachiko.

Pada suatu hari, Hachiko secara diam-diam dan tanpa disangka oleh Parker bahwa Hachiko mengikutinya dari belakang hingga ke stasiun saat Parker berangkat kerja. Secara tidak sengaja Parker menoleh ke belakangnya setelah ia masuk ke gerbong kereta dan melihat Hachiko sedang duduk akan menyaksikan keberangkatannya. Namun, Parker terpaksa keluar dari kereta untuk memulangkan Hachico ke rumah.

Ketika pulang dari bekerja dan keluar dari gerbong kereta, ternyata Hachico menjemputnya di stasiun pada pukul 17.00. Maka sejak saat itulah Parker membiarkan atau mengizinkan Hachico mengantar-jemputnya di stasiun.

Setiap hari Hachiko mengantar-jemput tuannya (Parker) ke stasiun. Para pedagang yang ada di sekitar stasiun, serta para penumpang lainnya yang berjalan kaki terkagum-kagum serta tercengang menyaksikan apa yang kelakuan Hachiko, itulah yang membedakannya berbeda dengan anjing pada umumnya.

Semua orang yang tinggal di sekitar Stasiun Bedridge menyayangi Hachiko dan selalu menyapanya dengan ramah dan senyuman hangat seperti layaknya sapaan kepada manusia. Dengan wajah ceria Hachiko menatap setiap orang yang menyapanya dan sambil menggoyangkan ekornya sebagai tanda keceriaannya.

Hari berganti hari dan sampai pada satu ketika, Hachiko tak menemukan kedatangan tuannya di stasiun pada pukul 17.00. Namun begitu, ia tetap menunggu sang tuannya pulang dari pekerjaannya.

Terdengar kabar, ternyata tuannya, Parker Wilson meninggal dunia karena serangan jantung ketika ia sedang mengajar. Sementara Hachiko sepertinya tidak pernah mengetahui dan mengerti bahwa tuannya yang selalu diantar jemputnya telah tiada.

Tidak lama setelah kematian Parker, Cate (istrinya) menjual rumah mereka dan pindah meninggalkan Bedridge. Sementara Hachiko dipelihara oleh anak perempuan Parker, Andy Wilson (Sarah Roemer).

Ketidakmengertian Hachiko atas kematian tuannya membuatnya terus berharap dan menantikan akan kepulangan tuannya. Berulang kali Hachiko kabur dari rumah Andy untuk pergi ke stasiun dengan harapan ia akan menemukan tuannya kembali.

Andy sangat menyayangi Hachiko, karena itu ia selalu menjemput Hachiko di stasiun, dan hingga pada akhirnya Andy merelakan Hachiko pergi. Selama itu juga Hachiko tinggal di stasiun menunggu waktu hingga pukul 17.00. Ia terus menunggu dan duduk di bundaran di depan stasiun Kereta Api, menantikan kedatangan tuannya.

Melihat keunikan tingkah laku Hachiko ternyata menarik perhatian banyak orang yang ada di sekitar stasiun, dan bahkan tulisan mengenainya juga dimuat dan disiarkan di berbagai media, seperti televisi dan di koran-koran sehingga kisahnya benar-benar menjadi legenda. Bahkan orang-orang memberinya makan Hachiko secara bergantian.

Kesetiaan Hachiko bertahan hingga tahun kesepuluh meninggalnya Parker, tuannya. Sampai akhirnya musim dingin tiba di tahun ke sepuluh, Hachiko meninggal di bundaran stasiun pada tengah malam yang sunyi dan dingin.

Kisah yang disajikan dalam film Hachiko: A Dog’s Story persis sama dengan kisah aslinya. Di Jepang, sebuah monumen berupa patung seekor anjing untuk mengenang kesetiaan Hachiko. Patung itu tepat didirikan di depan Stasiun Kereta Api Shibuya. Sungguh  kesetiaan Hachiko melebihi batasan kesetiaan anjing pada umumnya.

Refleksi

Para pembaca yang budiman, kisah nyata mengenai seekor anjing bernama Hachiko di atas mengajarkan kepada kita, bahwa kesetiaan adalah dilahirkan dari kasih tulus. Kesetiaan Hachiko dibentuk, yaitu ketika Profesor Parker memberikan kasih yang tulus padanya. Artinya, di dalam kasih yang tulus (sesungguhnya) tidak ada nilai kepura-puraan atau kepalsuan. Karena sesungguhnya, di dalam kepura-puraan hanya ada penghianatan.

Jika sesekor anjing saja sanggup setia sampai mati pada tuannya, bukankah manusia diciptakan Tuhan jauh melebihi kesetiaan seekor anjing? Bukankah manusia diberikan akal budi atau kecerdasan oleh Tuhan supaya dapat membedakan bahwa dirinya tidak sama dengan binatang? Tetapi sayang, realita kehidupan memperlihatkan, bahwa terkadang manusia lebih senang memelihara sikap, tindakan dan kasih yang penuh dengan kepura-puraan. Itulah sebabnya, di dalam dirinya benih-benih kebencian, dendam, iri hati, dengki dan penghianatan pada sesamanya dan terlebih pada Tuhan tumbuh dengan subur.

Sebagai akibatnya, kekerasan, ketidakadilan, dendam, kebenciaan dan pembunuhan atas sesamanya menjadi kecenderungan yang sangat sulit dihapuskan. Karena di dalam hatinya sudah tidak ada lagi tempat atau lahan untuk menumbuhkan benih-benih kehidupan seperti yang dikehendaki oleh Tuhan dari manusia.

Tuhan telah menciptakan manusia sedemikian rupa supaya mereka dapat hidup saling mengasihi seorang akan yang lainnya. Itulah sebabnya Tuhan sangat peduli terhadap orang-orang yang dengan setia mengasihi sesamanya dengan sepenuh hati, dan bukan dengan setengah hati atau kepura-puraan. Karena sesungguhnya, kesetiaan kita terhadap sesama, kasih kita terhadap sesama seharusnya menjadi bukti nyata kasih dan kesetiaan kita kepada Tuhan. Maka, adalah tidak mungkin seseorang mengatakan bahwa dia sangat mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati sementara ia tidak mengasihi sesamanya dengan sepenuh hati.

Monday, 27 August 2012

BELAJAR DARI KISAH SEORANG TUKANG BANGUNAN


Oleh: Sugiman

Alkisah, seorang tukang kuli bangunan tua yang hendak pensiun dari profesi yang sudah digelutinya selama bertahun-tahun. Mengingat usianya sudah sangat tua, maka ia merasa harus menikmati masa tua bersama istri tercinta, anak-anak, cucu dan orang-orang yang dikasihinya. Namun di sisi yang lain ia tahu bahwa ia akan kehilangan penghasilan rutinnya, tetapi bagaimanapun ia tetap merasa bahwa dirinya butuh akan istirahat.

Pada suatu ketika, yaitu di mana semuanya sudah terpikirkan dan dipertimbangkan dengan matang dan bijaksana, maka ia pun menyampaikan rencana tersebut kepada majikannya. Dengan berat hati, merasa sedih dirasakan oleh sang Majikan, sebab ia akan kehilangan salah satu tukang bangunan terbaiknya, yang tidak diragukan lagi keahlinya di bidang bangunan. Meskipun demikian, sang Majikan juga tidak ingin memaksa supaya ia tetap dan harus mempertahankan profesinya. Karena itu, meskipun berat hati sang Majikan menghargai keputusan salah satu karyawannya.

Dalam masa-masa yang sama, sang Majikan mengajukan sebuah permintaan terakhir sebelum akhirnya salah satu karyawannya ini berhenti dan melepaskan statusnya sebagai salah seorang karyawan terbaik, sang mandor memintanya sekali lagi untuk membangun sebuah rumah mewah, megah dari kayu terpilih atau bahan bangunan lainnya yang terbaik dan tahan untuk seumur hidup, dan ini betul-betul permintahan terakhir kalinya, tegas sang Majikan dengan suara lembut.

Mendengar permintaan terakhir sang Majikannya itu, maka ia pun mengiakannya. Tetapi kali ini dengan rasa terpaksa dan berat hati si tukang bangunan menyanggupi permintaan Majikan. Dalam hati ia berkata, ya tidak apa-apalah, karena ini untuk yang terakhir kalinya sebelum akhirnya ia pensiun. Dengan berat hati, mengerutu atau penuh dengan sungut-sungut si tukang bangunan ini mengerjakannya.

Karena sang Majikan merasa yakin sepenuhnya, maka ia hanya tersenyum kepada salah satu karyawan terbaiknya ini dan mengatakan: "Kerjakanlah dengan cara dan keahlian terbaik yang kamu bisa, dan kamu bebas membangun dengan semua bahan terbaik yang ada." Dengan senyum, si tukang menyembunyikan keterpaksaannya supaya tidak diketahui oleh sang Majikan.

Keesokan harinya si tukang pun memulai pekerjaan terakhirnya itu. Karena sang Majikan sudah percaya sepenuhnya, maka ia tak diawasi oleh seorangpun, termasuk oleh sang Majikannya. Karena itu, ia bermalas-malasan dan asal-asalan saat mengerjakannya. Bahkan ia (si tukang) menggunakan bahan-bahan yang tidak berkualitas, cepat lapuk, bahan-bahan yang seharusnya tidak pantas untuk sebuah bangunan megah, kokoh dan terlihat mewah. Tetapi karena cat-cat dengan kualitas terbaik yang digunakannya, maka semua bahan yang berkualitas rendah, kayu yang mudah lapuk dan bahan-bahan yang mudah membusuk dalam waktu dekat itu tak tampak sedikitpun.

Seiring berjalannya waktu, bangunan atau rumah mewah itu pun selesai. Keesokan harinya, sang Majikan datang untuk memastikan dan memeriksa bangunan mewah yang tidak lain adalah permintaan terakhirnya. Ketika selesai memeriksa luar dalamnya dan sang Majikan pun sembari menutup daun pintu depan, kemudian ia berbalik kepada seorang tukang bangunan yang akan pensiun ini dan berkata, "Ini adalah rumahmu, hadiah dariku untukmu, semoga kamu dan keluargamu hidup bahagia!"

Mendengar kalimat sang Majikan di atas, si tukang bangunan ini sangat terkejut dan merasakan penyesalan yang amat mendalam atas apa yang telah ia lakukan. Dengan hati yang menyesal ia berteriak dalam hatinya: “kalau saja sejak dari awal aku tahu bahwa rumah ini akan menjadi milikku, maka aku pasti membangunnya dengan sungguh-sungguh, menggunakan bahan-bahan terpilih dan menggunakan bahan-bahan terbaik serta berkualitas tingggi.”

Tetapi sayang semuanya sudah terlambat dan terjadi. Sekarang, mau tidak mau ia harus tinggal bersama keluarganya di rumah yang terlihat mewah dan megah dari luar karena kilapan cat-cat terbaik, tapi sayang di dibalik cat-cat mengkilap itu hanyalah selimut atas bahan-bahan yang rapuh, mudah lapuk dan mudah busuk. Itu artinya, ia hanya tinggal menunggu rumah itu rusak dalam jangka waktu dekat dan menyaksikan hasil perbuatannya sendiri.

Sayang sekali, karena ketidaksungguhan, berat hati, ketidakseriusan, asal-asalan dan keterpaksaan ternyata memaksa si tukang bangunan harus memilih cara yang terburuk, yang mengantarkannya pada penyesalan, serta mengakhiri karirnya dengan cara yang menyedihkan.

Refleksi!

Sebagian dari kita saat ini adalah bekerja sebagai salah seorang karyawan pada perusahan atau lembaga tertentu. Bahkan ada yang sudah mengabdi bertahun-tahun hingga harus pensiun karena usia lanjut. Ada begitu banyak pekerjaan yang telah kita lakukan, yang telah kita berikan kepada banyak orang di luar sana untuk melihat dan menikmati hasilnya. Tetapi pertanyaannya adalah, seberapa banyakkah kita sudah mengerjakan semuanya itu dengan cara-cara terbaik yang kita miliki, dengan segenap hati, tanpa sungut-sungut, tanpa berat hati atau keterpaksaan?

Kisah di atas mengajarkan kepada kita, bahwa selama masih ada waktu, kerjakanlah segala sesuatu dengan sungguh-sungguh, yang mendatangkan kebaikan bagi semua orang dengan hati yang tulus, dengan cara-cara hebat yang telah Tuhan berikan kepada setiap orang. Karena ada saatnya di mana setiap orang tidak dapat melakukannya lagi, yaitu ketika maut menjemputnya kelak. Sehingga hidupnya terasa hambar, tidak memberikan dampak positif apapun dan dilupakan di dunia ciptaan-Nya.

Sekali lagi, lakukanlah semua pekerjaan mulia yang dipercayakan Tuhan kepada kita, dan kerjakanlah semuanya dengan hati yang ikhlas, yaitu seolah-olah hari ini adalah hari terakhir Anda dan saya untuk berkarya di dunia ciptaan-Nya. Karena sebenarnya kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi satu detik yang akan datang dalam hidup kita. Dunia ini adalah rumah terbesar yang kita tinggali bersama keluarga besar, yaitu semua orang yang ada di dalamnya, tetapi tidak jarang kita melakukan banyak hal yang sia-sia, tidak maksimal, asal-asalan, bersungut-sungut dan penuh keterpaksaan. Ingat! Jangan sampai Anda dan saya menyesalinya dikemudian hari, yaitu ketika kita ditanya dan diperhadapkan dengan Sang Khalik.


Tuesday, 17 July 2012

MERAGUKAN CALON PRESIDEN DARI PARTAI DEMOKRAT


Oleh: Sugiman

Sebagai satu partai oposisi, Demokrat diberitakan telah memiliki 10 kandidat atau calon presiden pada pemilu 2014 mendatang. Salah satu nama yang disebut-sebut dalam pemberitaannya adalah Ibu Negara Ani Yudhoyono, yang tidak lain adalah istri dari presiden Susilo Bambang Yudhoyono sekarang. Sejauh ini pemberitaan ini tidak ada masalah dan sah-sah saja.

Bahkan Ketua Divisi Komunikasi Publik Partai Demokrat Andi Nurpati melalui pesan singkat, Selasa (15/5/2012) menilai bahwa Ani Yudhoyono, yang juga adalah istri dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sangat layak dan berpeluang besar untuk diusulkan menjadi calon presiden dari Partai Demokrat di Pemilu 2014. “Bu Ani adalah politikus yang tangguh. Peluang beliau terbuka untuk dicalonkan. Nama beliau sangat populer di masyarakat," kata Nurpati (15/5/ 2012).

Dengan kata lain, pencalonan di atas memperlihatkan bahwa mereka masih memiliki beban moral dan tanggung jawab secara politik maupun ekonomi atas maju mundurnya Negara Indonesia. Semangat membangun Indonesia sebagai Negara yang berketuhanan Yang Maha Esa, yang berkeprikemanusiaan, mandiri, sejahtera, aman dan nyaman bagi rakyatnya. Dalam hal ini harus diapriasi visi dan misi mereka sebagai salah satu partai besar di Indonesia. Tetapi citra dan nama baik dari partai Demokrat itu sendiri sedang berada di ambang kehancuran.

Maraknya kasus korupsi yang melibatkan beberapa kader partai Demokrat dan termasuk ketua umum partai Demokrat itu sendiri, yaitu Anas Urbaningrum telah menyebabkan partai ini terpuruk. Bahkan hasil surve memperlihartkan bahwa kepercayaan rakyat Indonesia terhadap elektabilitas akan eksistensi dari partai Demokrat mengalami penurunan yang sangat drastis. Betapa tidak? Salah satu masalah yang menyebabkan hal itu adalah kasus Hambalang. Dengan kata lain, masyarakat seolah melihat bahwa kasus Hambalang adalah kasus Dekokrat yang telah meruntuhkan nilai-nilai kemanusiaan.

Selain itu, pernayaan Anas Urbaningrum selaku ketua Partai Demokrat terkesan tidak meremehkan masalah Hambalang. Misalnya, saat menanggapi pernyataan M. Nazarudin bahwa Anas otak dari Hambalang, tetapi dengan santai beliau mengatakan “saya tidak tahu apa dan bagaimana kasus Hambalang”, selanjutnya “gantung saya di Monas jika terlibat kasus Hambalang”, dan “polemik Hambalang biarkan yang berpolemik”. Karena itu adalah wajar jika sebagian besar masyararakat Indonesia memandang rendah dan remeh akan calon Presiden dari Partai Dekokrat. Saya kira hal ini harus menjadi pelajaran penting bagi setiap partai politik yang lainnya. Sebab jika tidak, lambat laun bangsa Indonesia akan semakin terpuruk dan kepercayaan rakyat kepada setiap orang yang akan menjadi pemimpin pasti menjadi dingin dan sirna.

Rakyat Indonesia tidak membutuhkan kata-kata gombal seperti seseorang yang sedang merayu kekasihnya, tetapi mereka (rakyat) membutuhkan bukti nyata, yaitu kesetiaan atau pengabdian, tanggung jawab moral, sosial politik dan sosial ekonomi yang konsisten. Memang umumnya para calon pemimpin di Indonesia sering mengobral kata-kata yang berisi janji-janji belaka. Tetapi harus diingat, bahwa kata-kata akan kehilangan makna, wibawa, kuasa atau otoritas jika aksi atau perbuatan nyata diabaikan. Seperti pepatah orang bijak yang mengatakan, “seribu pengajaran adalah kesia-siaan jika tidak disertai dengan tindakan atau teladan yang dapat diikuti dan diwariskan kepada semua orang”. Pernyataan ini mengingatkan bahwa pentingnya singkronisasi atau keseimbangan antara kata-kata dan perbuatan dan itulah yang disebut integritas. Saya kira inilah hal yang sering diabaikan oleh sebagian besar pemimpin di Indonesia.

Itulah sebabnya negara Indonesia mengalami krisis kepemimpinan dan krisis kepercayaan dari masyarakat. Semua itu disebabkan oleh rendahnya rasa, cinta dan pengabdian setiap pemimpin di Indonesia. Untuk itu, sangat dibutuhkan pemimpin yang berani mengambil langkah besar, seorang pengagas yang tegas, dan pemimpin yang berintegritas serta pemimpin yang rela melayani. Dengan demikian bangsa Indonesia setahap demi setahap akan bangkit dari keterpurukannya yang selama ini telah merendahkan dan melecehkan nilai-nilai kemanusiaan di Indonesia.

Saturday, 14 July 2012

“DI DALAM UCAPAN SYUKUR ADA KETEKUNAN”


Oleh: Sugiman
Teks: 2 Timotius 1:1-10

1.      Salam pembuka (2 Tim 1:1-2):
Ada yang pernah menulis surat tidak? Entah itu untuk anaknya, orangtuanya, keluarganya atau untuk orang lain? Biasanya surat dimulai dengan salam, misalnya “salam sejahtera”, “salam damai”, “salam kasih” atau “asalammualaikom” dan yang lainnya. Itu semua disebut dengan salam pembuka. Demikian pula ketika seseorang mengangkat telepon hp, yaitu disadari atau tidak, ketika seseorang mengangkat telepon atau hp kemudian mengatakan: “hallo...” ini juga adalah salam. Kata “hallo” sebenarnya mengandung makna dan nilai mulia, yaitu sambutan hangat, mesra, ramah atau santun. Walaupun terkadang sering diabaikan.

Dalam budaya Arab sama dengan maknanya dengan “asalammualaikom”, demikian juga dalam budaya orang Israel sama dengan “syalom” yang sekarang digunakan juga oleh orang-orang Kristen. Begitu pula dalam budaya Batak toba sama artinya dengan kata “horras” dan budaya yang lainnya. Semua itu juga adalah salam atau sapaan akrab sebagai salah satu bentuk sikap menghormati atau menghargai orang lain. Demikian pula ketika kita akan masuk ke rumah orang lain, biasanya kita memberi salam dengan cara yang biasa kita lakukan, yaitu seperti mengungkapkan kata “hallo”, “syalom” asalammualaikom” atau dengan memanggil nama si pemilik rumah dan menanyakan kabarnya atau yang lainnya. Tujuannya supaya kita tidak sama dengan pencuri. Mana ada pencuri yang memberi salam sebelum mencuri? Tidak kan?

Begitulah juga dalam suratnya yang kedua ini kepada Timotius, Paulus memulainya dengan kata-kata salam sebagai kata-kata pembuka. Dalam kata-kata salamnya Paulus memperlihatkan bahwa dia telah mengenal sangat dekat pribadi Timotius, hingga latar belakang kehidupannya. Selain itu, Paulus memperlihatkan bahwa dirinya sudah sangat akrab dengan Timotius sehingga dia mengangap bahwa Timotius adalah seolah-olah anaknya sendiri. Kasih atau kehendak Allah yang telah hadir di dalam Kristus Yesus adalah dasar dari hubungan baik yang dibangun oleh Paulus bersama Timotius. Itulah sebabnya mereka tetap hidup di bawah pengamatan dan kehendak Allah yang selalu setia menyertai mereka untuk hidup saling mengasihi seperti Yesus mengasihi mereka (baca ayat 1-2).

2.      Ucapan syukur Paulus (2 Tim. 1:3-5):
Dalam ucapan syukurnya, Paulus mengungkapkan bahwa dirinya tak henti-hentinya mendoakan Timotius dalam setiap permohonannya kepada Allah. Perhatikan pada ayat 3-5, yaitu di mana Paulus dengan jujur mengungkapkan rasa syukurnya kepada Allah saat mendengar kesetiaan Timotius terhadap Allah yang selama ini dilayaninya dengan hati nurani yang murni dan bukan dengan kepura-puraan atau kepalsuan. Bahkan Paulus mengatakan bahwa sekalipun Timotius mengalami pergumulan yang sangat berat dan hingga menangis atau mencucurkan air mata karena tekanan dari orang-orang yang membenci Kristus, namun ia tetap setia dan percaya atau beriman dengan hati yang tulus ikhlas kepada Tuhan seperti yang diajarkan oleh nenek dan ibunya (baca ayat 4-5). Selain itu, ayat yang ke-5 juga menekankan pentingnya peranan orang tua dalam mendidik, menuntun atau membimbing anak-anaknya kepada pengenalan akan Tuhan. Maka bukan tanpa alasan Paulus menyebutkan nenek Timotius Lois dan ibunya Eunike pada ayat 5, justru Paulus ingin memperlihatkan bahwa peranan orangtua itu sangatlah penting dalam mendidik anak-anaknya kepada pengenalan akan Tuhan.

3.      Nasihat Untuk Bertekun (2 Tim. 1:6-10):
Selain mengucap syukur kepada Allah karena melihat kesetiaan Timotius, Paulus ternyata juga memberikan nasihat-nasihat kepada Timotius dan terlebih kepada kita saat ini, bahwa kita harus selalu setia pada panggilan Tuhan sesuai dengan kehendak-Nya. Mari kita perhatikan nasihat-nasihat Paulus pada ayat 6-10. Dalam nasihatnya Paulus mengatakan supaya Timotius “mengorbankan karunia Allah”.

Apa maksud kalimat “mengorbankan karunia Allah”? Maksud kata “mengorbankan” di sini adalah sama maknanya dengan menggunakan atau memanfaatkan setiap pemberian Tuhan dalam tujuan yang mulia dan yang mendatangkan kebaikan bagi setiap orang. Terutama dalam pengajaran, teladan dan keberanian dalam menyatakan kebenaran Allah di tengah-tengah dunia yang semakin hari semakin dipenuhi oleh orang-orang yang tidak percaya dan setia pada Tuhan. Karena ketidakpercayaan orang tidak lagi mengucap syukur atas semua yang telah dia miliki. Yang ada hanya sungut-sungut, mengerutu dalam hati dan tidak bisa menghargai atau mensyukuri pemberian Tuhan.

Selanjutnya, karena ketidakpercayaan orang juga takut untuk bersaksi tentang Kristus Yesus sebagai Juruselamat manusia. Bahkan banyak orang yang malu dan takut untuk mengatakan atau mengakui bahwa dirinya sebagai pengikut Kristus. Karena itu ketika diperhadapkan dengan dua pilihan, yaitu misalnya ketika ada orang yang menawarkan sejumlah uang kepadanya supaya tidak percaya kepada Tuhan Yesus, maka sering orang memilih uang dari pada memilih tetap setia dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.

Maka dari itu, tidak heran iman seolah-olah sudah sama dengan barang dagangan, yang diperjualbelikan. Alasannya karena apa? Karena takut dipecat dari pekerjaan, karena takut tidak punya sahabat, atau karena takut mati. Padahal sebenarnya Allah telah menaruh dan memberikan kepada setiap orang roh keberanian yang menguatkan untuk tetap konsisten menyatakan dan melakukan kebenaran dan keadilan sesuai dengan kehendak Allah, serta mengasihi dan mengerjakan kepada banyak orang tentang hal-hal penting yang mendatangkan kebaikan bagi setiap orang (baca ayat 6-7).

Saudara/i yang terkasih di dalam Tuhan kita Yesus Kristus, mengapa korupsi dan ketidakadilan merajalela di negara kita saat ini? Alasannya tidak lain dan tidak bukan adalah karena mereka tidak bisa mengucap syukur kepada Allah. Tidak bisa mengucap syukur adalah sama artinya juga tidak percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Selanjutnya, mengapa kekerasan, kelaparan, kemiskinan juga merajalela di negara Indonesia saat ini? Salah satu alasannya adalah karena semakin hari manusia itu semakin tidak mengenal Allah yang adalah sumber kehidupan dan kasih.

Maka tidak mengasihi sesama manusia juga berarti tidak mengenal Allah, karena Allah telah mengasihi manusia dan bahkan rela mengorbankan diri-Nya melalui kematian Yesus Kristus untuk menebus dan memperdamaikan manusia dengan Allah. Hubungan manusia yang dahulu putus dengan Allah, tetapi karena kasih-Nya semata hubungan itu disambungkan kembali supaya kita tetap menyatu dengan Allah. Tetapi sayang, manusia lebih memilih menjauh dari Allah, yaitu melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya, yaitu seperti menyakiti hati sesamanya, memfitnah sesamanya, dan bahkan membunuh sesamanya. Banyak dalam berita-berita diperlihatkan bahwa orangtua membunuh anaknya atau anak membunuh orangtuanya atau membunuh tetangganya. Semua itu terjadi karena nilai-nilai kasih itu sudah diabaikan dan dilupakan oleh manusia.

Nasihat Paulus selanjutnya adalah supaya jangan pernah merasa malu bersaksi tentang Kristus Yesus Tuhan kita yang tersalib di Golgota karena dosa kita. Karena Dia telah menyelamatkan kita, tetapi sekaligus telah memanggil kita dengan panggilan yang kudus atau khusus sesuai maksud kasih karunia-Nya semata. Artinya, jika seseorang memberitakan Injil atau Kabar Baik tentang Kristus berdasarkan kehendaknya sendiri dan bukan berdasarkan kehendak Allah maka itu adalah kebohongan belaka dan sia-sia. Karena itu, lakukanlah segala sesuatu yang Allah percayakan kepada kita atas nama Tuhan yang hadir di dalam Kristus Yesus dan bukan atas nama kita pribadi supaya dikenal orang. Jika kita melakukan segala sesuatu atas kehendak kita dengan tujuan supaya kita dikenal orang, maka sudah pasti bukan Kristus yang kita kabarkan atau beritakan, melainkan kita sendiri. Jika kita demikian maka kita adalah orang yang sudah menipu dan mengubah berkat Allah menjadi kutuk atas hidup ini.

Selanjutnya, ayat 10 merupakan penutut atas bagian ini, yaitu di mana Paulus mengingatkan kepada kita bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah sumber keselamatan dan kehidupan bagi manusia. Orang yang percaya kepada Kristus adalah orang yang sudah menerima hidup yang tidak dapat dibinasakan oleh maut atau kejahatan lainnya, karena kuasa Kristus jauh lebih besar dari kuasa kejahatan yang ada di dunia ini. Karena itu, bersyukurlah senantiasa kepada Allah atas semua yang diberikan-Nya, termasuk untuk hidup ini dan jalani hidup ini dengan berani menyuarakan kebenaran serta tekun dan tetap setia pada kehendak-Nya. Dengan demikian kita telah bersaksi kepada dunia bahwa Tuhan Yesus adalah sumber kehidupan abadi bagi orang percaya.

4.      Refleksi atau penerapan:
Karena itu, lakukanlah segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang sesuai dengan kehedak Allah di dalam Kristus Yesus yang telah menyelamatkan manusia dari kuasa dosa. Kristus adalah Tuhan yang telah membangkitkan kita untuk menjadi pemenang atas kuasa kejahatan yang mengakibatkan kita berdosa kepada-Nya. Kristus Tuhan juga telah mengubah kita menjadi manusia yang baru yang berkenan kepada-Nya.

Manusia baru adalah manusia yang sanggup mengeluarkan dirinya dari hal-hal yang dapat merusak hidupnya. Karena sesungguhnya kekuatan yang Allah berikan kepadanya lebih besar dari kekuatan kejahatan yang selalu merayu dan menggoda kita. Maka dari itu andalkanlah Tuhan dalam setiap langkah hidup kita, dan apapun yang kita lakukan, lakukanlah atas nama Tuhan yang telah memberikan kita kekuatan untuk melakukannya. Misalnya, menolong sesama yang kesulitan, menghibur yang bersedih, memberi makan mereka yang lapar, memberi minum mereka yang haus, menghapus air mata mereka yang menangis, membalut hati mereka yang terluka dan hanya Kristus Yesuslah yang dapat memampukan kita semua dapat melakukannya.

Selanjutnya, bersyukurlah atas segala sesuatu yang telah Allah berikan kepada kita! Karena hanya orang yang selalu bersyukurlah yang dapat menikmati hidup ini sebagai pemberian dari Tuhan. Karena hidup ini pemberian dari Tuhan, maka jalanilah dengan penuh tanggung jawab dan rasa syukur yang tulus ikhlas kepada-Nya. Salah satu bukti kita bersyukur kepada Tuhan atas hidup ini adalah mengasihi semua orang dengan kasih yang benar-benar tulus ikhlas dan sesuai dengan kehendak Allah, bukan kehendak kita.