Wednesday, 16 January 2013

HIDUP YANG TIDAK MUDAH MENUNTUT SEMANGAT PERJUANGAN



Oleh: Sugiman

Tidak seorang pun yang menyukai adanya kesulitan, apalagi mengharapkannya. Meski pun demikian, ia pasti datang dan hidup bersama kita. Saat semakin kita menganggapnya sebagai musuh, maka semakin ia menekan hidup kita dengan berat. Maka tidak heran jika banyak orang mengatakan: kalau dapat, semoga tidak ada kesulitan dalam hidup selanjutnya. Itulah harapan banyak orang.

Namun demikian, harapan itu hanyalah sebatas mimpi belaka. Betapa tidak? Karena kesulitan pasti akan tetap dan terus ada sepanjang perjalanan hidup kita. Dengan kata lain, kesulitan adalah “sahabat” kedua setelah Tuhan, yang senantiasa setia menemani, mengiringi, menuntun, mendidik dan mengajar kita. Tetapi sering kita memandangnya sebagai musuh raksasa yang menghalangi dan menakutkan hidup kita.

Bahkan tidak jarang kita beranggapan, bahwa “kesulitan” yang ada telah merampas kebahagiaan sepanjang hidup kita. Tetapi pertanyaannya adalah, apakah benar kita pasti akan bahagia jika tanpa kesulitan? Dengan kata lain, seharusnya kesulitan tidak dijadikan alasan untuk mengukur makna sebuah kebahagiaan. Karena pada dasarnya ketika seseorang mendapatkan kebahagiaan, maka sesulit apa pun situasi yang dialaminya seharusnya tidak mengurangi nilai atau makna dari sebuah kebahagiaan itu sendiri.

Orang yang bahagia adalah mereka yang selalu bersyukur atas setiap kesulitan yang dialami sepanjang hidupnya. Karena tanpa kesulitan, maka seseorang tidak akan pernah menjadi pribadi yang lebih dewasa, lebih bijaksana, lebih sabar, lebih kuat dan lebih teguh dari pribadi yang lainnya. Itulah sebabnya, kita dilarang untuk tidak berdoa meminta hidup ini menjadi sangat mudah, sebab pasti kita tidak akan mendapatkan apa-apa darinya. Tetap belajarlah berdoa supaya kita menjadi pribadi yang lebih kuat saat menghadapi berbagai kesulitan yang ada. Itulah kerinduan yang benar.

Kesulitan yang ada mengajarkan kepada kita untuk terus mengandalkan Tuhan sepanjang kehidupan kita. Karena Tuhan pasti menjadi pihak penolong pertama bagi mereka yang selalu berharap pada-Nya. Di dalam hati kecil setiap orang Tuhan menanamkan semangat juang untuk menaklukkan kesulitan dan rintangan hidupnya.

Percayalah, bahwa seseorang tidak dengan sendirinya bisa mengendarai sebuah sepeda. Tetapi di balik semuanya itu ada banyak kesulitan yang telah ia taklukkan sehingga bisa bersepeda. Kegagalan demi kegagalan terus ia alami. Bahkan lututnya sampai berdarah sering terjatuh. Tetapi itulah awal yang membuatnya bisa dan ahli mengendarai sebuah sepeda.

Seorang pemenang dikatakan sebagai pemenang bukan karena ia tidak pernah gagal saat menghadapi berbagai kesulitan, melainkan karena ia tidak pernah menyerah atas kesulitan. Itulah juga yang diajarkan oleh hukum alam, bahwa untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa, kuat, tangguh, bijaksana dan sabar, maka hadirnya kesulitan sangat dibutuhkan.

Tuhan dapat saja mengangkat beban yang ada di pundak kita dengan mudah. Tuhan juga dapat saja membebaskan Anda dan saya dari semua kesulitan yang ada. Tetapi ingat, Anda dan saya pasti tidak akan pernah mendapatkan apa pun dari hidup itu sendiri. Tuhan bukanlah pribadi yang mengajarkan supaya kita menjadi seorang pecundang, pengecut dan penakut. Tetapi Ia adalah pribadi yang selalu mendidik kita dengan banyak cara supaya kita menjadi pribadi yang dewasa, bijaksana dan kuat.

Karena itu, bersyukurlah atas setiap kesulitan yang kita alami. Karena kesulitan telah menolong kita dalam banyak hal yang mendatangkan kebaikan bagi kita pribadi maupun bagi orang lain. Orang yang berhasil selalu mengucap syukur atas setiap kesulitan yang dialaminya. Karena kesulitan dapat menjadi sebuah harapan jika seseorang memandangnya dari sudut yang lain. Mendapatkan kesulitan setara dengan kita mendapatkan kesempatan untuk belajar sesuatu yang berharga dan berguna. Jika kita tidak pernah mengucap syukur, maka kesulitan akan menjadi beban yang sangat berat dalam hidup kita.

Selanjutnya, hadapilah setiap kesulitan itu dengan semangat seorang pemenang yang telah Tuhan tanamkan dalam hidup setiap orang percaya. Jika seorang murid sekolah ingin lulus ujian, maka ia harus menghadapinya dan bukan menghindarinya. Demikian juga kita, jika ingin lulus dari ujian kehidupan, maka Anda dan saya harus menghadapinya dengan berani. Karena Tuhan tidak pernah membiarkan kita berjalan dan berjuang seorang diri saja. Tetapi Ia selalu ada bersama-sama dengan kita.

Selamat mencoba!



Wednesday, 2 January 2013

PENGANTAR KEPADA INJIL MATIUS

Oleh: Sugiman

Secara umum para ahli tafsir Perjanjian Baru mengatakan, bahwa Injil Matius ditulis sekitar tahun 80-an M (abad pertama) di Antiokhia-Siria. Artinya sesudah Bait Allah di Yerusalem dihancurkan oleh tentara Romawi pada tahun 70 M. Saat itu banyak orang Yahudi yang meninggal akibat peperangan pada masa itu.

Hancurnya Bait Allah di Yerusalem berarti hancurnya pusat kehidupan religius, sosial, politik dan ekonomi orang Yahudi. Jika tahun 80-an, berarti jemaat Kristen telah berdiri sekitar 50 tahun setelah kematian Yesus dan sekitar 10/15 tahun setelah Yerusalem dihancurkan. Berkuasanya kerajaan Yunani-Romawi, menjadikan hidup orang Kristen-Yahudi menderita. Hare dalam bukunya “Jewish Presecution Of Christian” mengatakan bahwa orang Kristen saat itu mengalami penganiayaan dari bangsa-bangsa lain. Mungkin inilah yang menyebabkan penulis Matius mengutip pernyataan Yesus ketika mengecam beberapa kota (lht. 11:20-24).

Kehidupan orang Kristen-Yahudi saat itu membentuk kelompok-kelompok untuk bisa bertahan hidup. Dalam konteks itulah penulis Injil Matius mengutip ungkapan Yesus yang berbunyi, “marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (11:28). Ungkapan ini memperlihatkan betapa menderitanya orang-orang Kristen saat itu. Namun, serentak dengan itu penulis Injil Matius juga memperlihatkan kepedulian, empati, keprihatinan dan belaskasihan Yesus kepada semua orang.

Selanjutnya, masalah lain yang dihadapi orang Kristen-Yahudi saat itu adalah mengenai penganiayan yang tersebar luas dengan memanfaatkan kesempatan ini. Kelompok orang-orang Yahudi yang masih hidup, terutama para pemimpin agama yang berhasil meloloskan diri, seperti ahli-ahli Taurat, yang mulai membedakan secara tajam aliran yang benar dan yang sesat dan termasuk di antaranya adalah orang Farisi atau yang biasa disebut kelompok “Law Observant”. Inilah yang melatarbelakangi penulis Injil Matius mengangkat masalah pertentangan antara Yesus dan orang Farisi atau penolakan orang Farisi terhadap kehadiran Yesus.

Akan tetapi, di sisi yang lebih khusus penulis Injil Matius ingin memperlihatkan bahwa Yesus adalah pelaku kasih yang radikal, yaitu kasih yang melebihi batas status, yang menghancurkan tempok pemisah, yang mempersatukan mereka yang hidup musuh-memusuhi, yang menyembuhkan luka-luka batin orang yang terpinggirkan, yang ditolak, kasih yang memperbaiki kekeliruan, tidak mencari-cari kesalahan dan memberi pengharapan untuk dunia yang kelam dan suram. Hal itu terbukti ketika kita memperhatikan ungkapan berbahagia dalam khotbah di bukit, muzijat-muzijat yang dilakukan Yesus, pengutusan para murid, kecaman atas beberapa kota, ajakan kepada mereka yang letih lesu dan berbeban berat serta perkataan-Nya bahwa “Manusia jauh lebih berharga dari pada domba” (12:12). Semua itu dituliskan oleh penulis Injil Matius supaya pembacanya memahami dan mengenal bahwa Yesus adalah kasih yang abadi bagi semua orang percaya.

Semoga tulisan ini bermanfaat….

Friday, 28 December 2012

KARENA AKU MENGASIHIMU

Oleh: Sugiman

Konon, hiduplah seorang ayah yang kaya raya, beserta kedua anak laki-lakinya yang sangat ia kasihi. Adapun keluarga mereka adalah keluarga terkaya di daerahnya pada masa itu. Mereka tidak hanya memiliki kekayaan dalam bentuk materi, tetapi juga benda, seperti: emas, perak dan ternak yang berlimpah, ribuan hektar lahan perkebunan, ladang, sawah dan ribuan jumlah para pekerja dan pelayan. Semua itu kekayaan yang sudah pasti menjadi hak warisan kedua anaknya.

Adapun sang ayah di usianya yang sudah tidak lagi muda sangat bahagia menikmati masa tua hidupnya bersama kedua anaknya. Rumahnya megah dan mewah, dan di situlah mereka saling bercengkrama, bercanda, tertawa bersama kedua anaknya. Namun si bungsulah sering bersama sang ayah karena usianya yang masih muda dan belum diperkenankan untuk bekerja. Karena itu tak jarang sang ayah kuatir dengan anak bungsunya, yang masih sangat rawan akan pengaruh dan ajakan yang jahat dari teman-teman sebayanya maupun dari orang dewasa lainnya. Bahkan tidak jarang juga sang ayah mengontrol dan memperhatikan si bungsu dengan kasih tanpa harus menghilangkan haknya untuk membuat sebuah keputusan yang baik sesuai hati nuraninya.

Sementara anaknya yang sulung sangat sibuk mengurus lahan perkebunan, ladang dan sawah mereka. Selain itu, si sulung juga sibuk mengawasi, mengontrol dan mengarahkan para pekerja ayahnya supaya tetap bekerja dengan baik. Itulah sebabnya jarang berada di rumah seperti halnya adiknya (si bungsu). Setiap pagi, di pagi-pagi buta ia sudah berangkat. Bahkan ia sering pulang malam dari pekerjaannya, dan begitu seterusnya. Karena itu, sering juga sang ayah menyuruhnya untuk beristirahat yang cukup, menjaga pola makan demi kesehatannya.

Sang ayah merasa sangat bangga pada  kedua anaknya. Bahkan tidak jarang sang ayah terbangun di tengah malam, kemudian membuka pintu kamar anaknya satu persatu untuk melihat keadaan mereka. Saat anak-anaknya tidur dengan nyenyak, sang ayah juga sering memperbaiki selimut yang jatuh ke lantai, serta membelai rambut dan mencium kening mereka dengan kasih. Sang ayah selalu berharap supaya mereka selalu menjadi anak yang baik dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kebenaran. Bahkan tidak jarang juga sang ayah meneteskan air mata karena rasa haru, sukacita, bahagia dan kasihnya yang amat besar, yang tak dapat diukur dan yang tak ternilai harganya dan yang tak terungkapkan dengan kata-kata.

Pada suatu ketika, di saat yang tak diduga-duga, saat yang tak terpikirkan oleh sang ayah, yaitu di mana anaknya yang bungsu meminta seluruh harta, hak dan warisan yang menjadi bagiannya secara paksa. Penulis buku Lukas mencatatkan kalimat yang diungkapkan si bungsu terhadap sang ayah secara gamblang demikian: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku (Lukas 15:12). Mendengar kalimat itu, sang ayah terkejut dan bertanya mengapa si bungsu melakukannya. Tetapi dengan suara keras si bungsu langsung membentak sang ayah bahwa ia akan pergi ke negeri jauh. Kemudian sang ayah bertanya lagi: ke negeri jauh di mana nak, dan apa nama daerahnya? Tetapi lagi-lagi dengan nada keras dan membentak si bungsu berkata: bapa tidak perlu tahu negeri jauh yang akan aku tuju, cepat bagi harta kita untuk ku!!!.

Akan tetapi sang ayah tetap menjawab dengan nada sopan dan lembut serta penuh dengan belas kasihan. Namun, setelah beberapa hari merayu, memohon, menasihati dan mempertimbangkan matang-matang keputusan si bungsu yang akan pergi jauh meninggalkan ayahnya, kakak sulungnya dan tempat kelahiran, akhirnya sang ayah membagi dan memberikan harta yang menjadi hak warisan sesuai permintaan si bungsu. Dengan berat hati sang ayah merelakan dan mengizinkan kepergian anak bungsunya yang sangat ia dikasihi. Sang ayah sangat kuatir pada anaknya itu, karena ia belum bisa bekerja seperti anak sulungnya. Si bungsu juga belum bisa mengarahkan hidupnya sendiri pada hal-hal yang dapat merusak masa depannya.

Meskipun demikian, sang ayah tetap menghormati dan menghargai keputusan si bungsu untuk pergi ke negeri jauh sesuai keinginannya. Sebelum pergi, si bungsu terlebih dahulu menjual harta benda. Penulis buku Lukas menuliskan demikian: Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya (Lukas 15:13). Di negeri jauh itu, si bungsu memuaskan hawa nafsunya bersama para pelacur dan hidup dalam perjudian hingga semua hartanya habis total sehingga ia menjadi melarat dan hidup dalam kelaparan. Akhirnya, ia mengemis ke sana sini, memungut makanan-makanan sisa di tempat-tempat sampah. Hidupnya sangat menderita. Itulah sebabnya, ia berusaha mencari pekerjaan yang layak supaya dapat hidup. Dari satu tempat ke tempat yang lain ia melamar pekerjaan, namun tak seorang pun yang memberinya kesempatan untuk bekerja.

Sedangkan, ayahnya di rumah, setiap hari, sepanjang waktu dan bahkan bertahun-tahun selalu menantikan dan mengharapkan anaknya yang bungsu itu pulang atau kembali rumah. Setiap hari sang ayah duduk dan berdiri di depan rumah dan menajamkan pandangan matanya yang sudah rabun ke ujung jalan. Bertahun-tahun di setiap harinya sang ayah menunggu anaknya yang bungsu pulang itu pulang ke rumah, tetapi tak juga kunjung datang. 

Sementara si bungsu sudah merasa pasrah akan hidup di negeri jauh. Ia merasa sudah tak ada lagi harapan hidup. Itulah sebabnya, ia memutuskan untuk bekerja sebagai penjaga ternak babi di ladangnya. Tetapi ia pun tidak diberi makan oleh majikannya. Ia sangat kelaparan dan melarat. Penulis buku Lukas mengatakan, bahwa ia (si bungsu) berusaha mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi, tetapi tak seorang pun memberikannya kepadanya (Lukas 15:14-16).

Di dalam kemelaratan, kesusahan dan penderitaan yang dialaminya ia menyesal, sadar dan berkata pada dirinya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa (Lukas: 15: 17-19). Setelah ia mengatakan demikian, penulis buku Lukas melanjutkan ceritanya: Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia (Lukas 15:20).

Refleksi:
Bukankah dalam kehidupan ini kita juga sering menyakiti dan menghianati Tuhan seperti yang dilakukan oleh si bungsu di atas? Tidak jarang kita memaksa Tuhan untuk memberikan segala sesuatu yang kita inginkan sesuai yang kita harapkan. Setelah mendapatkannya kemudian kita pergi jauh melupakan, meninggalkan dan menghianati-Nya. Bahkan tidak jarang Tuhan menangis karena kelakukan dan perbuatan kita yang sering menyakiti hati-Nya. Namun begitu, apapun keadaan kita, seberapa sering kita mendustai dan menghianati-Nya, Dia tetap dan selalu menunggu kita kembali kepada-Nya. Dia pasti sangat merindukan kita.

Begitulah juga Tuhan memperlakukan kita. Semua dilakukan karena Dia sangat mengasihi kita, dan Dia berharap kita juga seharusnya melakukannya (mengasihi-Nya). Bagaimana caranya kita dapat mengasihi Tuhan? Yesus mengatakan: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Matius 25:40). Karena itu janganlah pernah berhenti mengasihi seorang akan yang lain! Itulah pesan Natal yang Yesus titipkan kepada para pengikut-Nya.

Thursday, 20 December 2012

MENIKAH: MENCARI TEMAN HIDUP ATAU MUSUH HIDUP?

Oleh: Sugiman

Dalam bukunya Selamat Berteman, Andar Ismail menuliskan demikian: “Mengapa orang menikah? Karena jatuh cinta. Mengapa rumah tangganya bahagia? Bukan karena jatuh cinta, melainkan karena bangun cinta. Jatuh cinta berbeda dengan bangun cinta. Jatuh cinta itu gampang, dalam sepuluh menit juga bisa jatuh cinta. Tetapi membangun cinta itu susah dan perlu waktu seumur hidup.”

Mengapa bisa demikian? Karena ketika jatuh cinta, kita buta, bisu dan tuli. Itulah sebabnya kita sengaja tidak melihat keburukan si dia. Kita juga pun tidak mungkin mencela keburukannya. Bahkan ketika dia mencela pun, kita tidak mendengarnya sebab kita bisu. Ketika bepergiaan dunia seolah-olah milik berdua, sedangkan yang lainnya ngontrak. Percaya atau tidak, itulah yang dialami orang yang sedang jatuh cinta. Terkesan berlebihan memang, tetapi ini adalah realita kehidupan orang yang sedang jatuh cinta.

Puncak dari kebutaan, kebisuan dan tuli yang dialami adalah ketika bersanding dipelaminan, atau setelah janur kuning melengkung. Namun setelah malam pertama berakhir dan bulan madu berakhir, suasana pun mulai berubah. Mata kita mulai melihat keburukan si dia, bahkan sebesar butiran debu pun kesalahannya menjadi tampak dengan jelas. Mulut kita yang tadinya bisu mulai mengeluarkan kata-kata pedas, menyakiti, mengkritik dan ia pun membela diri, sehingga terjadilah pertengkaran. Emosi yang jahat pun tidak terkendali, sehingga piring, gelas, kuali, periuk pun berhamburan di halaman rumah.

Memang kedengarannya sedikit lucu dan terkesan didramatisir, karena setiap kali saya mengatakannya kepada banyak orang hal ini sering menjadi bahan tertawaan sejenak. Tetapi hal ini tetaplah fakta dan bukan karangan belaka. Ini adalah realita. Apalagi kalau sudah memiliki anak, masalah kecil pun dapat menjadi besar dan serius.

Jika demikian, apakah kita harus berdiam diri dan tidak boleh marah? O jangan! Bukan itu maksud saya. Karena tidak mungkin dalam sepanjang kehidupan rumah tangga tanpa kemarahan. Tetapi maksud saya adalah, marahlah seperlunya, sewajarnya, yang mendidik, yang terukur dan yang membangun satu sama lain. Dengan kata lain, setiap kesalahan atau kekeliruan yang dilakukan oleh si dia memang harus ditegur dan diperbaiki. Maka dari itu, dalam situasi ini dibutuhkan komunikasi yang sehat. Bukan untuk mencari-cari kesalahannya.

Interaksi dengan teman hidup memang sangat berbeda dengan teman sekolah, teman minum kopi, teman memancing, teman kerja di kantor yang hanya berlangsung dalam beberapa jam saja dalam sehari. Sedangkan dengan teman hidup kita berinteraksi jarang ada yang kurang dari 24 jam sehari selama seminggu. Interaksi yang intensif itu membawa dua dampak yang sangat signifikan dalam kehidupan kita, yaitu positif atau negatif.

Kedua dampak di atas dijelaskan secara gamblang oleh Andar Ismail demikian, positifnya adalah “kita betul-betul saling mengenal watak dan kebiasaan masing-masing. Semua belang kita tersingkap. Tidak ada sifat buruk yang bisa disembunyikan di belakang topeng. Negatifnya, kita jadi saling mudah kecewa dan jengkel terhadap segala keburukan itu.”

Di sinilah letak perbedaan mendasar atnata orang sedang jatuh cinta dan membangun cinta. Kita jatuh cinta pada seseorang karena kita menyukainya, sedangkan membangun cinta diperlukan itikad baik untuk memahami setiap persoalan yang ada dan mencari solusinya secara bersama. Itulah sebabnya, kerendahan hati, sikap yang tidak mementingkan diri sendiri dan kedewasaan pola pikir sangatlah dibutuhkan atau diperlukan dalam hal ini.

Jika tiap-tiap orang hanya mementingkan dirinya sendiri, maka keharmonisan tidak akan pernah tercapai secara total dan utuh. Komunikasi pun tidak pernah menemukan titik temu untuk perdamaian keduanya. Yang ada hanya bara yang semakin membara. Akibatnya kata-kata yang dikeluarkan tidak memberikan makna positif sedikitpun, dan keduanya saling melukai hati. Makin larut luka itu makin mendalam dan mengkristal, sehingga keduanya saling memusuhi. Suasana pun terasa sangat menyiksa.

Yang seharusnya si dia jadi teman hidup, tetapi malah menjadi musuh hidup. Pernikahan dan rumah tangga seharusnya menghadirkan suasana surge, tetapi malah terasa di neraka. Mengapa demikian? Karena keduanya berusaha saling membela dan membenarkan kesalahannya satu sama lain.

Pertanyaannya adalah, apa yang kita cari dulu semasa masih berpacaran? Apakah kita mencari teman hidup atau musuh hidup? Jika memang benar mencari teman hidup, mengapa kita menyakiti, memusuhi dan menjadikannya sebagai seteru? Atau kita merasa ia bukan orang yang pantas untuk dicintai? Atau kita merasa si dia tidak cocok, tidak sepadan dan tidak seperti yang diharapkan? Atau kita merasa si dia memiliki banyak kekurangan, tidak sempurna dibandingkan diri kita?

Ketika Tuhan menciptakan manusia, kemudian Ia menanamkan cinta dan kasih sayang-Nya di dalam lubuk hati setiap orang bukan karena mereka pantas menerimanya. Tetapi karena kasih dan anugerah-Nya semata, yakni supaya kita hidup saling mengasihi seperti Tuhan telah mengasihi kita. Kasih yang Tuhan berikan itulah yang dapat menyatukan dua insan/ pribadi yang memiliki karakter, sifat, sikap yang tidak sama seorang dengan yang lainnya. Cinta bukan menolak ketidaksempurnaan atau kekurangan yang ada pada si dia, tetapi menerima dan melengkapi apa yang menurut kita tidak sempurna. Cinta bukan mencari orang yang sempurna untuk dicintai, melainkan menciptakan cara-cara yang sempurna untuk mencintai dan menerima kekurangan atau ketidaksempurnaan yang ada pada pribadi itu sendiri.

Jatuh cinta adalah langkah awal dari seseorang untuk membangun cinta. Sedangkan membangun cinta berarti membangun hidup dengan cinta yang lebih dewasa. Sehingga kedua belah pihak dapat saling menghargai, menopang, menguatkan, mendengarkan, bertanggung jawab, mengoreksi, menegur kesalahan, memperbaiki kelakuan, mengasihi, mengalah, memahami, memperhitungkan perasaan atau memperhatikan kepentingan. Karena itu bangunlah cinta di atas dasar kasih yang tulus nan kokoh, maka Anda pasti merasakan manfaat dan kebahagiaan yang belum pernah Anda rasakan sebelumnya!.

Wednesday, 28 November 2012

BIARLAH KEHENDAK-NYA YANG TERJADI


Oleh: Sugiman

Dalam menjalani kehidupan ini, tidak jarang kita merasa bahwa ada begitu banyak hal yang telah direncanakan dari sejak awal, tetapi tidak semuanya terjadi sesuai dengan harapan.

Bahkan yang sulit dimengerti lagi adalah hampir semuanya yang kita rencanakan tidak terjadi sebagaimana yang dinanti-nantikan atau harapkan selama ini.

Namun demikian, harus disadari bahwa apa yang kita anggap baik adanya ternyata belum tentu baik bagi Tuhan. Mungkin itulah alasan mengapa tidak semua rencana kita selaras dengan rencana atau rancangan Tuhan.

Dengan kata lain, kita sangat berhak dan harus atau wajar untuk merencanakan segala sesuatu yang akan kita kerjakan atau lakukan, serta mengharapkan hasil yang sepadan atau seimbang dengan harapan.

Namun, tidak berarti semuanya menjadi harus atau wajib terjadi. Karena pada dasarnya, segala sesuatu yang kita inginkan sebenarnya belum benar-benar kita butuhkan. Atau mungkin sebenarnya kita belum siap dan pantas untuk memperolehnya. Karena tidak menutup kemungkinan kita akan melupakan Tuhan setelah kita mendapatkannya.

Betapa tidak? Dari sekian banyak orang yang mengalami kesusahan dan hidup pas-pasan sebelumnya ternyata tidak pernah berhenti mengucapsyukur (bersyukur) dengan apa yang telah mereka miliki. Tetapi keadaan atau situasi menjadi sangat berubah ketika mereka dengan sangat mudah mendapatkan segala sesuatu yang mereka inginkan.

Akibatnya, ucapan syukur jarang dan bahkan tidak pernah terdengar lagi di telingga Tuhan. Mereka begitu sibuk dengan semua yang dimiliki, semua perhatian berpusan pada harta benda dan kekayaan yang ada. Sehingga satu detik pun mungkin tidak diberikan untuk menghayati nilai-nilai kehidupan bersama Tuhan yang tidak bernah berhenti memelihara kehidupan setiap orang.

Maka dari itu, jangan mengharuskan atau mewajibkan semuanya terjadi sesuai dengan keinginan yang kita harapkan. Karena dengan demikian sama halnya kita telah menjadi tuan atau majikan atas Tuhan. Sehingga seolah-olah Tuhan kita jadikan sebagai pembantu yang harus menuruti semua keinginan kita.

Tidak semua yang kita inginkan dapat Tuhan lakukan. Bukan karena Dia lemah dan tidak sanggup melakukannya, tetapi Dia tahu mana yang terbaik untuk kita, dan Dia dapat melakukan banyak hal penting yang dapat mendatangkan kebaikkan bagi banyak orang dan diri kita. Karena itu, biarkanlah segala sesuatunya terjadi sesuai dengan kehendak bebas-Nya!