Thursday, 25 April 2013

MEREKA SEUMPAMA RAJAWALI


Oleh : Sugiman

Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung,  tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.
(Yesaya 40:30-31).

Kitab Yesaya 40:30-13 merupakan khotbah penghiburan bagi umat Israel yang dibuang ke Babel antara tahun 598 dan 582 SM. Di mana pada masa itu umat mengalami kekecewaan dan keputusasaan yang mendalam. Karena Tuhan yang mereka imani dari sejak dahulu kala ternyata telah dikalahkan oleh dewa Babel. Mereka merasa bahwa Tuhan telah mengabaikan, membiarkan dan meninggalkan umat-Nya di saat mengalami penderitaan dan penindasan yang dilakukan oleh para penguasa Babel.[1] Penulis kitab Yeremia 52:28-30 memberi informasi, bahwa ada 4.600 orang Yehuda yang dibuang ke Babel. Kemungkinan yang dihitung hanyalah kaum pria. Karena itu, mungkin jumlah umat Tuhan yang ada di pembuangan di Babel mencapai sekitar 15-20 ribu orang. Babel berpusat di sungai Tigris dan Eufrat (yang kini disebut Irak).

Kerja paksa (rodi) seolah telah menjadi rutinitas hidup sehari-hari umat Tuhan di Babel. Berbagai bentuk penyiksaan dan perlakuan kasar yang dilakukan para penguasa Babel seakan tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Ratapan menahan berbagai penderitaan dan perlakuan kasar telah mereka serukan kepada Tuhan. Namun Tuhan tak kunjung datang untuk menolong mereka. Klimaks dari kekecewaan dan keputusasaan pecah ketika mereka mempertanyakan tentang keberadaan Tuhan. Ekspresi kekecewaan dan keputusasaan itu terlihat jelas dalam Yesaya 40:27, yakni: “Hidupku tersembunyi dari Tuhan, dan hakku tidak diperhatikan Allahku” (Yes. 40:27).

Dalam situasi dan kondisi yang tidak setabil itulah nabi, yang juga ikut dibuang ke Babel menyadari, bahwa pembuangan yang dialami umat Israel adalah karena ketidaksetiaan mereka kepada Tuhan. Sewaktu di Yerusalem, mereka sering mendua hati dan menghianati Tuhan dengan cara memberikan persembahan kepada para dewa di bukit-bukit pengorbanan. Dalam kesengsaraan yang dialami umat Israel, sang nabi yang tidak disebutkan namanya mengajak umat untuk menjadi pribadi yang kuat. Sang nabi mengajak umat untuk introspeksi diri masing-masing. Karena pembuangan yang mereka alami di Babel tidaklah lebih dari sebuah didikan Tuhan atas umat yang dikasihi-Nya. Karena itu ia selalu yakin, bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka seorang diri di dalam penderitaan itu. Melainkan, Tuhan selalu hadir dan menguatkan atau memberikan semangat baru kepada umat-Nya yang mulai putus asa dan tak berdaya (baca Yes. 40:29).

Namun demikian, tidak semua umat menyadari kehadiran Tuhan dalam setiap penderitaan atau suka-duka yang mereka rasakan. Sehingga semangat hidup mereka melemah, cepat menyerah, putus asa, kecewa, dan bahkan telah meninggalkan Tuhan. Mereka itulah yang disebut, “orang-orang muda yang menjadi lelah dan lesu, dan taruna-taruna yang tersandung” pada ayat 30. Artinya, pengenalan mereka akan keberadaan Tuhan ternyata masih sangat dangkal (muda).

Sebaliknya, mereka yang tetap setia menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru. Ini adalah anti klimaks yang meruntuhkan pernyataan bahwa “Tuhan itu tersembunyi” (Yes.40:27). Dengan kata lain, hanya mereka yang tidak setia lah yang melihat, bahwa hukuman sebagai malapetaka yang mematikan. Tetapi tidak bagi mereka yang tetap setia. Karena umat yang tetap setia selalu melihat, bahwa di dalam setiap tantangan/ rintangan yang ada sebenarnya tersimpan kekuatan baru untuk menghadapi tantangan berikutnya. Karena itulah pada ayat 31 mereka diumpamakan sebagai “burung rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya”. Bahkan ditegaskan, bahwa mereka tidak akan menjadi lesu ketika berlari, dan tidak menjadi lelah saat berjalan. Semua itu adalah gambaran atas berkat-berkat yang diterima oleh orang-orang yang selalu setia kepada Tuhan. Walaupun sebenarnya hidup yang mereka jalani tidak mudah, melainkan berat, dan penuh dengan rintangan. Tetapi mereka yakin, bahwa Tuhan telah memberikan semangat juang dan mental seorang pemenang, yang tidak pernah menyerah saat menghadapi hidup yang sulit. Karena ia yakin, bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap langkah hidupnya.

Refleksi

Bukankah hal serupa juga sering kita rasakan? Bakankah tidak jarang juga kita mempertanyakan keberadaan Tuhan dan meragukan kemahakuasaan-Nya di saat-saat sulit yang kita alami dalam hidup ini. Memang, semua itu adalah reaksi yang wajar dan manusiawi. Tetapi agak terlalu berlebihan jika kita harus mengukur kehendak Tuhan dengan kehendak manusia. Dengan kata lain, terimalah secara jujur, bahwa perjalanan hidup yang kita lalui bukanlah jalan yang mudah dan mulus. Melainkan ada banyak rintangan yang turut menghiasinya. Entah itu suka maupun duka, tangis maupun tawa, kesedihan maupun kebahagiaan, dan itulah hidup. Bahkan tak jarang kaki kita terantuk pada batu, terpeleset pada lubang, tergelincir dan jatuh karena kerikil-kerikil yang tajam dan tak terhindarkan. Yang paling parah lagi bila kita terbentur pada tembok.

Akan tetapi, yang terpenting adalah apa yang harus kita lakukan saat menghadapinya? Apakah kita sudah siap menghadapinya? Atau apakah kita harus menyerah? Kita bisa saja menangis, meratap, mengeluh, marah-marah, dan yang lebih ekstrim lagi adalah nekat bunuh diri. Betapa tidak? Sering kita membaca surat kabar dengan berita-berita yang menyedihkan dan memilukan hati nurani. Beratnya beban hidup yang terus menekan dan menyumbat saluran pernapasan kita seolah menjadi alasan tunggal untuk mengakhiri semuanya dengan tragis. Seolah-olah tembok yang berdiri di depan kita terlalu kokoh untuk ditembus dan terlalu tinggi untuk dipanjat. Tebalnya kabut di depan sana seolah-oleh sama dengan tembok baja yang tak mungkin ditembus. Bukankah anggapan yang demikian yang ditanamkan oleh seorang pecundang atau penghianat? Tetapi tidak untuk seorang pemenang.

Penulis kitab Yesaya 40:30-31 mengambarkan, bahwa seorang pemenang adalah seumpama rajawali yang terus naik terbang dengan kekuatan sayapnya. Dan itulah kekuatan yang diberikan Tuhan padanya untuk mengatasi setiap rintangan dan tantangan dalam hidupnya. Dengan kata lain, sebenarnya Tuhan telah memberikan kekuatan/ kemampuan kepada tiap-tiap orang untuk dapat mengatasi dan menaklukan setiap kesulitan, tantangan maupun rintangan dalam hidupnya. Penulis kitab Yesaya 40:30-13 sangat sadar bahwa hidup ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, melainkan sebuah rencana mulia dari Tuhan yang harus dijalani dengan kerja keras, dan semangat juang yang tinggi. Mengapa harus berjuang? Karena jalan hidup ini bukan jalan yang mudah. karena jika hidup ini menjadi mudah, maka sebenarnya kita tidak akan pernah mendapatkan apa-apa darinya, kecuali kekecewaan dan penyesalan.

Penting untuk diketahui, bahwa kekecewaan dan penyesalan atas hidup sebenarnya hanya ada di dalam pribadi seorang pecundang/ pengecut. Dan itu adalah bukti ketidakyakinan mereka terhadap kemahakuasaan Tuhan. Padahal, jika kita yakin atas segala penyertaan-Nya, maka tak satupun sesuatu terjadi di luar pengamatan-Nya. Itulah sebabnya Tuhan ingin kita melakukan banyak hal penting secara dinamis dan yakin, bahwa di balik setiap kesulitan yang ada tersimpan suatu rencana Tuhan yang abadi. Saya selalu yakin, bahwa Tuhan tidak pernah memberikan berkatnya secara cuma-cuma untuk dinikmati seorang pemalas, kecuali kepada seorang pejuang dan rajin. Burung, semut dan binatang lainnya memang menuai dari hasil yang tidak mereka tanam, tetapi Tuhan tidak pernah menyodorkan makanan secara gratis di depan mereka. Melainkan mereka harus berjuang dan bekerja keras untuk mendapatkannya. Bahkan, mereka harus berhadapan dengan berbagai tantangan dan bahkan musuh yang siap memangsa mereka. Itulah harga sebuah perjuangan yang harus mereka bayar.

Bukankah hal serupa juga berlaku bagi orang-orang yang percaya kepada Tuhan? Takut, kuatir dan gemetar adalah manusiawi, tetapi tidak berarti kita harus menghindar atau menyerah. Justru seharusnya di dalam ketakutan, kekuatiran dan kegemetaran itulah kesempatan kita memohon pertolongan dari Tuhan untuk menguatkan kita saat menghadapi berbagai rintangan hidup ini. Penulis kitab Yesaya mengatakan bahwa “orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru” (Yesaya 40:31). Kata “menanti-nantikan” sama artinya dengan “kesetiaan pada Tuhan”. Itu adalah suatu pengharapan yang aktif dan dinamis bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan umat-Nya menghadapi segala kesulitan itu seorang diri. Melainkan terus menyertainya. Itulah jiwa dan mental yang memiliki seorang pemenang. Selalu ada harapan di balik ketiadaan harapan.

Seorang pemenang selalu optimis dan yakin, bahwa pancing bukanlah alat satu-satunya untuk menangkap ikan di sungai/laut. Tetapi ada banyak cara dan alat lain yang dapat digunakan. Hanya saja tingkat kesulitannyalah yang berbeda. Itulah sebabnya mereka tidak pernah menyerah. Jiwa seorang pemenang selalu yakin, bahwa manusialah yang menutup pintu keberhasilan dan kebahagiaan hidupnya, bukan Tuhan. Mungkin, pintu depan, samping dan belakang tertutup rapat, tetapi sebenarnya tak terkunci. Kabut memang tebal di depan, tetapi itu bukan tembok baja yang tak dapat ditembus. Ada sebuah ungkapan berbunyi demikian: “The importan thing about a problem is not its solution, but the strenght we gain in finding solution.” Artinya, hal terpenting dari sebuah masalah bukanlah penyelesaiannya, tetapi kekuatan yang kita peroleh untuk mencari solusi. Satu hal lagi harus diingat, bahwa saat kita merasa tak ada harapan lagi, tetapi bagi Tuhan selalu ada harapan jika kita tetap percaya.

Di satu sisi, musuh terkuat manusia bukan apa yang ada di luar dirinya, melainkan apa yang ada di dalam dirinya, yaitu: kemalasan, cepat menyerah, takut gagal, dan tidak yakin pada kekuatan yang telah Tuhan berikan padanya. Tetapi di sisi yang lain, sahabat dan kekuatan seorang pemenang sebenarnya juga ada pada dirinya, yakni: rajin, tekun, berani mencoba walaupun gagal, tidak gampang menyerah, dan selalu yakin atas kemampuan yang telah Tuhan berikan dalam hidupnya. Itulah senjata utama yang diberikan Tuhan kepada setiap orang yang percaya. Hanya saja tak semua orang dapat menggunakannya dengan baik, karena ia tidak pernah bertanya kepada Tuhan, apa gunanya dan bagaimana menggunakannya. Maka dari itu, relasi/ hubungan yang harmonis dan akrab bersama Tuhan adalah kunci utama manusia untuk membuka gembok-gembok pintu yang tertutup dengan rapat; jembatan penyebrangan dan jalan keluar yang tersembunyi bagi seorang pecundang.

Maka dari itu:

1.      Lakukanlah banyak hal penting yang dapat kita lakukan, yang mendatangkan kebaikan bagi banyak orang. Rayakan dan nikmatilah hari-hari hidup ini dengan kasih yang tulus mesra bersama banyak orang yang kita kasihi, yang selalu menguatkan semangat kita saat hampir kendor, dan mengobati luka-luka batin kita, serta memberi pengharapan saat kita putus asa.

2.    Terimalah segala rintangan dan kesulitan hidup dengan pikiran yang positif. Yakinlah, bahwa semua itu terjadi bukan tanpa alasan, makna dan tujuan mulia atas hidup kita. Melainkan di dalamnya tersimpan suatu kekuatan baru, yang memampukan kita maju ke tahap kesulitan hidup berikutnya. Karena itu, jangan pernah meremehkan, mengabaikan, apalagi melupakan hal-hal kecil yang pernah terjadi dalam hidup kita. Sebab semuanya itu telah turut serta menghiasi perjalanan hidup kita.

3.     Tanamkanlah pemahaman, bahwa sebenarnya hidup ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, melainkan suatu rencana mulia yang telah dirancang dan diberikan oleh Tuhan kepada setiap orang untuk terus diperjuangkan.

4.      Memiliki pengharapan yang teguh kepada Tuhan, karena hanya Dialah yang sanggup memampukan dan menguatkan kita untuk menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan hidup yang ada. Pengharapan itu melahirkan kesetiaan, yang terus menanti-nantikan TUHAN, dan kepada merekalah kekuatan baru itu diberikan. Sehingga mereka dapat mengatasi setiap kesulitan hidupnya. Karena itulah mereka diumpamakan seperti burung rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya. Bahkan ketika mereka berlari, namun tidak menjadi lesu, dan mereka berjalan, namun tidak menjadi lelah.

5.  Dengarkan suara-Nya melalui orang-orang yang dengan ketulusan hatinya mengasihi kita. Rasakan kelembutan belaian tangan-Nya melalui pertolongan banyak orang yang dengan rela mengorbankan banyak hal penting untuk hidup kita. Entah itu doa, uluran tangan, waktu, tenaga, pikiran, perasaan, atau moral maupun moril. Masih banyak lagi sarana yang dapat Tuhan pakai untuk menolong setiap orang yang percaya pada-Nya.

6.   Bersyukurlah atas banyak hal yang kita alami dalam hidup ini. Entah itu suka, maupun duka, tangis maupun tawa. Karena hanya dengan hati bersyukurlah segala beban hidup ini dapat ditanggung. Hati yang bersyukur adalah hati yang damai, dan kedamaian hati itu yang sering dijadikan Tuhan sebagai sara kesembuhan atas luka-luka batin kita, kekecewaan yang menekan hidup kita dan mengurangi segala beban hidup yang kita pikul. Melalui hati yang terus bersyukur juga Tuhan telah memberikan semangat hidup yang baru untuk kita bagikan kepada banyak orang.

7.   Jangan berdoa kepada Tuhan supaya hidup ini menjadi mudah. Tetapi berdoalah supaya kita menjadi pribadi yang lebih kuat untuk menghadapi segala bentuk kesulitan dan tantangan atas hidup kita. Mungkin di mata banyak orang segala kesulitan adalah musuh yang menakutkan, tetapi di mata seorang pemenang, semua itu adalah teman seperjuangan dalam menggapai impian yang mulia dari Tuhan.

8.    Jangan pernah menunda apalagi berhenti untuk melakukan kebaikan. Karena masih banyak orang yang membutuhkan pertolongan dan uluran tangan kita. Ingat! apa yang kita tabur itulah yang pasti kita tuai. Semua itu sangat membutuhkan kerja keras, semangat juang dan jiwa seorang pemenang. Kalau kita ingin menjalani hidup tanpa kerja keras, maka sebenarnya kita sama seperti seorang petani yang mengharapkan hasil panen besar tetapi ia sendiri tidak pernah menanam.




[1] Orang-orang buangan terdiri dari kaum bangsawan, ahli-ahli bangunan, orang-orang kaya, pintar/terpelajar, imam-imam dan pegawai tinggi umat Israel. Mereka memang diberi kebebasan untuk tinggal di sana, membuat rumah, berdagang, memelihara agama dan tradisi nenek moyang mereka. Tetapi mereka harus menjalankan kerja rodi/paksa oleh penguasa-penguasa Babel untuk membangun kota Babel. Tidak hanya sebatas kerja rodi, tetapi mereka juga sering mendapat perlakuan kasar dari para penguasa Babel. Bnd. Marie – Claire Barth, Tafsiran Alkitab: Kitab Nabi Yesaya Pasal 40-55, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1983, 11.

Monday, 1 April 2013

KASIH YANG TERABAIKAN



Oleh: Sugiman

“Ya Bapa ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Lukas 23:46), begitulah bunyi sabda keenam yang diucapkan Yesus di atas kayu salib menjelang detik-detik kematian-Nya. Meskipun kata-kata itu telah diungkapkan dua ribu tahun yang lalu, namun gaung atau gemanya masih terngiang-ngiang di telinga kita sebagai umat-Nya. Kalimat di atas adalah suatu uangkapan penyerahan total Yesus Kristus kepada otoritas Allah yang telah mengutus-Nya.

Sebutan “Bapa” di atas secara eksplisit adalah mengacu kepada sebuah kedudukan yang Yesus pangku, yaitu sebagai Anak Allah. Sebutan “Bapa” juga adalah untuk menggambarkan sebuah relasi khusus antara “Bapa” dan “Anak”.  Artinya, kata “Bapa” di sini menunjuk kepada sebuah otoritas mutlak Allah sebagai pencipta alam semesta dan segala isinya. Sedangkan kedudukan Yesus sebagai “Anak” adalah untuk melaksanakan otoritas mutlak “Bapa”. Sebutan “Anak” tidaklah dipahami sebagai anak hasil biologis antara seorang laki-laki dan wanita, melainkan murni menunjuk kepada kemanusiaan Yesus.

Penulis surat Filipi membuka sedikit rahasia kemanusiaan Yesus dengan ungkapan bahwa kehadiran Yesus ke dalam dunia sebagai bukti Ia telah mengosongkan diri-Nya (meninggalkan keilahian-Nya) dan mengambil rupa seorang hamba, serta menjadikan diri-Nya sama dengan manusia (Filipi 2:5-7). Artinya, kehadiran Yesus sebagai utusan Allah ke dalam dunia saat itu adalah murni sebagai manusia biasa 100%. Tujuan-Nya hanya satu, yaitu untuk menjalankan otoritas, amanat/perintah Bapa-Nya. Itulah sebabnya Yesus bisa merasakan haus, lapar, lelah, ngantuk, menangis sebagai mana layaknya manusia. Karena Yesus sama dengan manusia lainnya, kecuali satu yang membedakan-Nya dengan manusia lainnya, yaitu Yesus tidak berdosa.

Ketidakberdosaan Yesus itulah yang membuat diri-Nya disebut sebagai Putra Tunggal Bapa. Artinya, hanya Yesus yang kudus, yang tidak hidup di dalam dosa seperti manusia lainnya. Ketidakberdosaan Yesus juga menjadikan diri-Nya sebagai manusia satu-satunya yang layak dan berkenan menjadi tebusan atas hidup manusia yang telah berdosa. Dosa telah membuat manusia meninggalkan Allah, dan akibatnya manusia ditinggalkan oleh Allah. Dosa juga membuat relasi manusia dengan Allah rusak, putus, terhalang dan jauh. Karena dosanyalah manusia kehilangan persekutuan dengan Allah.

Kerinduan Allah untuk bersekutu kembali dengan manusia ciptaan-Nya menuntut sebuah pengorbanan yang besar, yang tak dapat dilakukan oleh manusia yang berdosa. Karena mustahil manusia yang berdosa dapat membebaskan sesamanya dari belenggu dosa. Itulah sebabnya dibutuhkan seorang manusia yang kudus, suci dan tidak berdosa. Namun, karena semua manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah, maka mau tidak mau Allah harus turun ke dalam dunia, meninggalkan keilahian-Nya, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadikan diri-Nya sama dengan manusia (Filipi 2:5-7). Semua itu dilakukan-Nya dengan satu alasan mutlak, yaitu karena Ia mengasihi manusia.

Melalui pengorbanan Kristus di atas kayu salib sebagai Putra Tunggal-Nya, Allah mengulurkan tangan-Nya untuk menyalurkan kasih-Nya dan menganugerahkan keselamatan kepada manusia. Namun demikian, tidak jarang uluran tangan-Nya dipandang sebelah mata dan bahkan diabaikan oleh manusia. Kecenderungan manusia menolak uluran tangan Allah, yang menyelamatkan itu begitu kuat menguasai hidup manusia. Manusia seolah telah merasa nyaman hidup di dalam dosanya, sehingga seolah-olah ia tidak membutuhkan Tuhan lagi. Karena itulah manusia cenderung mengabaikan kasih-Nya yang besar, yang dimateraikan-Nya di dalam pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu Salib di Golgota. Melalui sikap, sifat, tingkah laku, perkataan dan perbuatannya yang jahat manusia seolah memberi isyarat bahwa dia menolak kasih Allah yang disalurkan di dalam Kristus Yesus. Meskipun demikian, Allah tetap setia menunggu dan terus menunggu hingga manusia bersedia mengulurkan tangannya untuk menyambut tangan Kristus yang telah lama terulur.

Refleksi

Mungkin bagi sebagaian orang hari Paskah telah berakhir, cerita pengorbanan, kematian dan kebangkitan Kristus telah berakhir dan tamat. Keselamatan telah diterima secara cuma-cuma. Kehidupan sehari-hari dimulai seperti biasanya, toh tahun depan Paskah diperingati kembali seperti yang telah lalu. Itulah pemahaman yang tak terelakan dalam serangkaian perjalanan hidup sebagian besar manusia yang percaya kepada Kristus di dalam dunia. Jika hal itu juga yang terjadi dalam kehidupan kita sebagai umat-Nya, maka sebenarnya kita telah mengabaikan ketulusan kasih Allah atas kehidupan kita.

Paskah tidak hanya sebatas perayaan atas kebangkitan Kristus dari maut, atau hanya sekadar peringatan kemenangan-Nya atas kuasa dosa manusia yang ditanggungkan kepada-Nya. Tetapi Paskah berbicara soal pengampunan Allah kepada manusia yang harus menjadi ciri khas umat-Nya untuk mengampuni sesamanya.

Paskah tidak hanya sebatas cerita ketulusan kasih Allah kepada manusia, melainkan harus menjadi bukti kehidupan umat Kristiani untuk selalu mengasihi sesamanya dengan kasih yang tulus pula. Kasih yang tulus tidak melihat kelayakan seseorang untuk menerimanya, melainkan karena ia manusia yang utuh, yang diciptakan serupa dengan gambar Allah. Ekspresi kasih yang tulus harus senantiasa dinyatakan dalam kehidupan kita sehari. Kasih berarti memberi diri sebagai mana Kristus telah memberikan diri-Nya untuk dikorbankan dan menjadi tebusan bagi semua orang berdosa.

Paskah bukan berbicara kekerasan, bukan kematian, bukan kejahatan, bukan permusuhan, bukan balas dendam, bukan diskriminasi, dan bukan penindasan. Tetapi soal kehidupan. Karena itulah setiap umat-Nya seharusnya tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk sesamanya dan terlebih untuk kemuliaan Tuhan. Itulah kehidupan yang menghidupi.

Paskah berarti berbicara kedamaian, keharmonisan, kenyamanan, keamanan dan ketentraman. Karena itulah Kristus selalu menuntut umat-Nya untuk hidup damai dengan sesamanya. Melalui mengorbanan-Nya di atas kayu salib Yesus menyerukan pendamaian antara Allah dan manusia, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan alam ciptaan-Nya. Keharmonisan, kenyamanan, keamanan dan ketentraman harus selalu dijunjung dalam kehidupan di dalam dunia ini. Sehingga Paskah tidak berlalu dengan sia-sia dalam kehidupan kita, tetapi hidup di dalam kehidupan kita. Karena Kristus selalu hidup di dalam pribadi dan hati nurani umat-Nya yang sungguh-sungguh percaya kepada-Nya.


Thursday, 28 March 2013

DARAH KRISTUS TELAH MENGHIDUPKAN UMAT-NYA



Oleh: Sugiman

Keberanian Yesus yang disebut Kristus mengecam kekeliruan hidup dan pengajaran orang-orang Farisi, Imam-imam kepala, tua-tua dan para pemimpin agama Yahudi lainnya membuat orang-orang Yahudi dari golongan marginal merasa terbela dan terlindungi. Seiring berjalannya waktu, orang-orang yang mengikuti Yesus pun semakin banyak dan kelompok mereka semakin besar. Perasaan takjub dan heran yang dirasakan oleh orang banyak terhadap pengajaran dan perbuatan Yesus yang ajaib atas berbagai penyakit menjadikan mereka semakin yakin akan kemesiasan Yesus. Karena itulah, orang banyak yang mengikuti-Nya menyanjung tinggi dan mengelu-elukan Yesus dengan semangat yang berapi-api sembari meneriakan: “Hosana bagi anak Daud!”, “Hosana di tempat yang mahatinggi!” (Mat.21:9, “Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea” (Mat.21:11); “Hosana bagi anak Daud!” (Mat.21:15).

Seruan-seruan di atas diteriakan secara lantang mulai dari Yerikho menuju ke Yerusalem. Secara tidak langsung sebenarnya seruan-seruan itu mengacu kepada penerimaan yang sah orang banyak akan kehadiran Yesus, dan pengakuan yang penuh harapan, serta sekaligus sebagai pentahbisan atas kedudukan Yesus sebagai Mesias. Tidak sedikit dari orang Yahudi yang tertindas pada masa itu menyandarkan hidup, harapan dan masa depan mereka kepada Yesus sebagai pembela. Namun sayang, harapan mereka kandas setelah kehadiran Yesus ternyata tidak mencerminkan otoritas seorang Mesias sebagai mana yang mereka harapkan dan pahami.

Di dalam pemahaman orang banyak dan para murid-Nya, Mesias adalah pemimpin perang yang tangguh, memiliki semangat perang yang membara, pemberani dan harus memegang senjata perang yang tanpa belas-kasihan terhadap musuh. Sedangkan kehadiran Yesus sangat kontras dan bertolak belakang dengan pemahaman yang selama ini tertanam di dalam benak para murid dan orang banyak. Itulah alasan yang paling mendasar mengapa orang-orang Yahudi kecewa dengan kepemimpinan Yesus saat itu. Karena itu juga, satu-persatu dari para pengikut-Nya mulai meninggalkan dan melupakan jasa-jasa-Nya. Bahkan salah satu murid-Nya, yakni Yudas rela menjual-Nya seharga 30 keping perak.

Bahkan Petrus, salah seorang murid yang sangat dekat dan dikasihi oleh Yesus, yang pernah menyatakan dirinya siap mengikut Yesus ke manapun Ia pergi, dan apapun resiko atau konsekwensinya (Mat.26:30-34). Tetapi tatkala Yesus ditangkap, Petrus menyangkal-Nya ketika dirinya dinyatakan sebagai salah satu pengikut Yesus oleh orang-orang yang mengenalinya. Puncak penyangkalan Petrus terhadap Yesus adalah ketika ia dengan berani bersumpah, bahwa dirinya sama sekali tidak pernah mengenal Yesus (Mat.26:69-75).

Kekecewaan orang banyak dan para murid-Nya meruncing tatkala Yesus diserahkan kepada Pilatus. Teriakan dan seruan “hosana, hosana, hosana” berubah secara drastis menjadi “salibkan Dia! Salibkan Dia!, Salibkan Dia!”. Bahkan yang lebih memilukan lagi adalah orang banyak lebih memilih Barabas yang terkenal kejahatannya supaya dibebaskan. Sedangkan Kristus harus disalibkan karena kedengkian para imam, tua-tua dan orang-orang Farisi atas kehadiran Kristus (Mat.27:11-26). Itulah alasan utama mereka menghasut orang banyak supaya meneriakkan penyaliban-Nya. Penyaliban Kristus merupakan puncak dari kedengkian para pemimpin agama Yahudi terhadap kehadiran Kristus.

Refleksi
 Sebagai umat Kristen, orang yang mengaku percaya kepada Kristus. Mungkin kita adalah salah satu dari orang memahami kehadiran Kristus secara keliru. Di saat keadaan terasa tenang, nyaman, aman, damai, sesuai harapan, tak ada penderitaan dan kejahatan lainnya adalah situasi yang sangat tepat untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu mengatasnamakan Kristus sebagai Tuhan yang tak ada duanya. Tetapi, tatkala situasi mencekam, mengecewakan, tak sesuai, adanya berbagai penderitaan yang terjadi dalam hidup kita, dan pada saat yang sama kita menyangkal keberadaan Kristus sebagai Tuhan.

Mungkin juga, kita adalah salah satu orang yang berapi-api menyerukan puji-pujian, menyanjung-nyanjung nama Yesus sebagai juruselamat kita. Secara lantang kita meneriakkan “hosana bagi Allah”, “hosana bagi Yesus di tempat yang Mahatinggi”. Tetapi serentak dengan itu, mungkin kita juga adalah salah seorang yang meneriakkan penyaliban-Nya di atas bukit Golgota.

Kekecewaan kita terhadap Kristus Yesus bukan karena kita tidak tahu siapa Dia. Tetapi karena kita berusaha mengatur Kristus sesuai dengan harapan dan kemauan kita. Itu adalah ciri-ciri orang yang memahami kehadiran Kristus dalam hidupnya secara keliru. Kekeliruan itulah yang membuat seseorang jatuh pada lumpur kekecewaan yang mungkin sulit untuk dipulihkan oleh akal sehat kita.

Hal itu membuktikan, bahwa dengan kekuatan rasio saja tidak cukup untuk memahami keberadaan Kristus dalam kehidupan kita. Hanya imam yang mampu memahami apa yang tak terjangkau oleh rasio. Namun demikian, tidak berarti iman mengabaikan rasio, karena rasio anugerah Allah. Rasio yang berjalan di bawah kendali-Nya pasti menghasilkan iman yang kritis, yang tak mudah tertipu dan tak mudah terombang-ambingkan. Karena ia didasarkan pada kebenaran-Nya.

Iman tidak datang dengan sendirinya, tetapi ia lahir dari berbagai pengalaman hidup kita, yang tak terjangkau oleh kekuatan rasio atau akal budi kita. Karena pada dasarnya, rasio atau akal budi selalu melihat apa yang terlihat oleh mata kita dan menjawab segala sesuatu yang dapat dijelaskan dengan kata-kata. Sedangkan iman melihat yang tak terlihat oleh mata manusia. Itulah sebabnya, tidak semua kebenaran dapat dijelaskan dengan kata-kata. Itulah bagian yang dapat dijelaskan oleh iman. Dengan kata lain, hanya iman yang sanggup menjangkau-Nya. Dalam konteks itulah penulis kitab Ibrani mengatakan, bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1).

Yesus yang disebut Kristus telah menggantikan posisi Barabas untuk dihukum mati. Seharusnya Barabas yang dihukum mati di atas kayu salib di Golgota, tetapi orang banyak secara serentak meneriakkan, “biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan anak-anak kami” (Mat.27:25). Ini memperlihatkan, bahwa Barabas telah dibebaskan oleh darah Kristus. Pembebasan Barabas telah mewakili pembebasan kita dari belenggu kuasa dosa. Seharusnya kitalah yang mati, tetapi karena kasih dan anugerah-Nya kita diselamatkan oleh darah-Nya yang kudus dan mahal itu. Dan hanya darah Kristus-lah yang dapat membayar lunas utang kita kepada maut. Artinya, hanya karena darah-Nyalah kita telah dihidupkan kembali. Darah-Nya terus mengalir di dalam kehidupan kita untuk selama-lamanya.

Friday, 8 March 2013

JALAN YANG SEPI ITU MENUJU KE GOLGOTA

Oleh: Sugiman

Jalan untuk mewujudkan sebuah cita-cita mulia bukanlah jalan yang mudah. Perjuangan dan pergumulan tak pernah menyerahkan tubuhnya secara gratis untuk didekap. Air mata seolah-oleh menjadi syarat utamanya.  Bahkan penulis Mazmur pernah mengatakan bahwa air mata sering menjadi makanannya sehari-hari (Mazmur 42:3). Ini memperlihatkan bahwa betapa seringnya air mata turut serta membasahi jalan yang terjal dan sungsang itu, dengan segala kerikilnya yang tajam yang siap menghadang kita. Jatuh bangun perjuangan telah menjadi suatu harga yang harus dibayar lunas untuk mengapai mahkota kehidupan yang mulia.

Selain itu, bahkan tidak jarang hal-hal yang paling kita lindungi, sayangi dan kasihi di dalam dunia ini dirampas secara paksa dari dalam lubuk hati kita. Seiring berjalannya waktu dalam proses pemulihan, luka hati nurani yang baru mengering kembali dikoyakkan oleh duri dan onak dunia yang ganas bak harimau dan singa yang sedang kelaparan. Lutut yang masih gemetar berusaha bangkit dengan bantuan tongkat kayu yang rapuh. Itulah sebabnya ia tak mampu menahan beratnya pergumulan hidup anak manusia yang ditindih beban berat.

Ketika kaki tergelincir, seolah tak seorang pun yang menoleh dan berusaha mengulurkan tangan untuk membangunkannya. Yang ada hanyalah sebuah cercaan, cacian, makian, cemoohan dan dibenci oleh mereka yang menolak-Nya. Bahkan tidak jarang nyawa menjadi taruhan yang harus dibayarkan secara cuma-cuma. Begitulah potret anak manusia yang sedang mengumuli dan berjuang dalam mengeluti panggilan Tuhan yang tersalib di Golgota itu. Itulah sebabnya jalan itu menjadi jalan yang sepi karena menuju ke kalvari di Golgota.

Kehadiran Kristus di dalam dunia yang cemar adalah sebagai pribadi selanjutnya setelah para nabi yang membiarkan hidupnya dinodai, dilecehkan, direndahkan, dikhianati oleh pribadi yang lainnya, yaitu pribadi yang menolak kebenaran-Nya. Keteladanan Kristus yang telah meninggalkan keagungan surga, yang telah menjadikan diri-Nya sama dengan manusia, dan bahkan sampai mati di Golgota hanya untuk sebuah tujuan, yaitu mendamaikan manusia dengan Allah.

Kenyataan atau realita tersebut tidak berarti Kristus menyukai hidup yang penuh dengan penderitaan. Melainkan, untuk menghadirkan nilai-nilai kebaikan, kebenaran, kehidupan di tengah-tengah dunia yang cemar, dengan karut-marutnya memang dibutukan daya juang seorang martir. Meskipun harus diakui, bahwa tidak sedikit orang yang memandang dan menganggap-Nya sebagai suatu kebodohan. Tetapi justru karena alasan itulah, pengorbanan-Nya perlu dimaknai kembali dengan nalar atau akal budi yang sehat oleh para pengikut-Nya, yang sekaligus penuh penyerahan diri pada tuntunan Roh-Nya.

Keteladanan dan pengorbanan Kristus telah memberi makna hidup yang sesungguhnya pada eksistensi seutuhnya pada hidup manusia di tengah-tengah dunia yang cemar. Keteladanan dan pengorbanan-Nya sama maknanya bahwa Ia telah memberikan diri-Nya pada manusia supaya mereka hidup. Bersamaan dengan itu, kehadiran Kristus memperlihatkan bahwa peranan akal budi dalam kesalehan hidup orang beriman tidaklah identik dengan hidup bebas dari segala bentuk kejahatan, penderitaan dan pengorbanan. Melainkan, meninggalkan hal-hal yang dianggap berharga lebih dari kehadiran-Nya, serta fokus pada pekerjaan Tuhan dan kasih kepada sesama.

Sungguh, pengorbanan memerlukan suatu kerelaan, kesadaran dan kasih yang benar-benar tulus untuk menghadapi berbagai risiko demi sebuah tujuan hidup yang mulia bersama Kristus yang tersalib di Golgota. Jalan yang dirintis Kristus adalah jalan yang amat sepi dilalui orang-orang. Bahkan hanya segelintir orang yang bersedia melewatinya secara sengaja dengan meminta dituntun dari tangan Kristus yang kuat.

Jalan yang sepi, yang menuju ke Golgota itu dibenarkan Yesus, dengan sebuah pernyataan: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Matius 16:24; Lukas 9:23). Frasa “setiap orang” ditujukan kepada orang-orang yang merasa rela, sungguh-sungguh, serius dan bertekat penuh untuk mengikut Yesus ke mana pun ia diutus oleh-Nya. Sedangkan frasa “yang mau” menunjuk kepada makna kesadaran dan tak ada paksaan bagi setiap orang untuk menderita bersama Kristus. Selanjutnya frasa “ia harus menyangkal dirinya” mengacu kepada makna bahwa seorang pengikut Kristus harus berani mengorbankan hal-hal yang ia lindungi atau sayangi dan kepentingannya demi kepentingan Kristus. Ini adalah persoalan yang tidak mudah dilakukan dan tidak mudah diterima oleh akal sehat. Tetapi sekali lagi, di sini Kristus memperlihatkan bahwa jalan yang sunyi itu adalah jalan yang tidak mudah. Hal itu ditegaskan melalui frasa “memikul salibnya” dan “mengikut Aku”. Memikul salib dan mengikut Kristus adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Artinya, mengikut jejak Kristus tidak berarti bebas dari segala penderitaan yang ada, melainkan menjadi pribadi yang kuat dalam menghadapinya.

Meskipun demikian, pernyataan Kristus di atas tidak serta merta membiarkan manusia mengalaminya seorang diri, karena walau pun Ia telah mengalami semua penderitaan yang ditakuti oleh manusia, tetapi Ia sendiri akan terus mendampingi, memberikan kekuatan, menopang, menuntun dan memampukan setiap pengikut-Nya untuk tetap hidup di bawah pengamatan-Nya. Karena itu, relasi yang harmonis dan persekutuan yang erat dengan Tuhan adalah kunci utama untuk dapat menjalani jalan yang sepi itu. Karena hanya mereka yang menjalin relasi harmonis dengan Tuhan lah yang sanggup melihat nilai kekal di penghujung jalan yang sepi itu. Tantangan demi tantangan berani mereka hadapi karena anugerah dan harapan akan sesuatu yang bernilai mulia dan kekal. Bahkan tidak jarang dipertontonkan di muka umum, bahwa para pengikut Kristus, yang melewati jalan yang sepi itu menyatakan imannya secara gamblang kepada dunia meski diperlakukan secara diskriminatif.

Melalui dukungan doa-doa dari pengikut Kristus lainnya, Yesus selalu menyapa para pengikut-Nya dengan penuh kasih, memberikan kekuatan, topangan, menjadi rekan kerja yang penuh kasih seorang terhadap yang lainnya. Sehingga pada saat yang sama juga kita melihat, bahwa kekuatan, keberanian dan kerelaan mereka untuk menempuh perjalanan yang panjang melalui jalan yang sepi, yang penuh dengan kesulitan demi menjadi berkat bagi sesama selalu bersinar. Dalam konteks itulah Bonhoeffer menyatakan, bahwa pengorbanan adalah lencana pemuridan. Pengorbanan demi sebuah tujuan mulia telah menjadi jati diri, atau simbol dan kebanggaan bagi setiap murid Kristus. Kristus yang tersalib, yang mati di kalvari di Golgota telah hidup menyatu di dalam diri para pengikut-Nya. Dengan kata lain, Kristus lah yang memampukan setiap pengikut-Nya sanggup menjalani jalan yang sepi, yang dihindari oleh banyak orang yang menolak-Nya. Sehingga, di balik jalan sepi itu mereka menemukan pribadi Kristus yang mengucapkan selamat datang kepada para pengikut-Nya yang setia hingga maut menjemputnya.

Semangat Kristus telah menghidupkan semangat hidup manusia yang telah memudar. Kasih, teladan, karya dan pengorbanan Kristus di kalvari di Golgota telah menjadi lencana kehormatan yang meneduhkan hati yang gelisah, jiwa yang haus dan dahaga. Wajah-Nya semasa di atas kayu salib telah terpampang di hati setiap para pengikut setia-Nya untuk terus menghadirkan kedamaian di dunia, walaupun jalannya penuh dengan rintangan, ranjau, duri, dan bahkan maut. Namun tak ada yang perlu ditakutkan demi sebuah kebaikan dan kebenaran yang harus diberikan kepada sesama. Karena di wajah setiap orang terpancar kemuliaan Kristus yang tersalib di Golgota pada dua ribu tahun yang lalu.